Ini Dia Teknologi yang Bakal Pangkas Emisi Karbon di PLTU

ADVERTISEMENT

Ini Dia Teknologi yang Bakal Pangkas Emisi Karbon di PLTU

Shafira Cendra Arini - detikFinance
Senin, 14 Nov 2022 17:50 WIB
PLTU
Ilustrasi PLTU/Foto: dok. PLN
Jakarta -

Saat ini di Indonesia tengah dikembangkan teknologi Selective Catalytic Reduction (SCR) dan penggunaan energi primer green amonia. Ini sebagai salah satu opsi untuk menurunkan emisi karbon pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

SCR dapat digunakan di sejumlah PLTU sebagai langkah dekarbonisasi dari pembakaran batu bara.

Selaras dengan hal ini, PT Prima Layanan Nasional Enjiniring dan PT Indo Raya Tenaga (IRT) menandatangani Nota Kesepahaman atau MOU 'Join Study co-firing of 60% Green Ammonia at SCR-equipped USC Power Plant of Jawa 9 & 10'. Penandatanganan kesepakatan ini di lakukan di sela-sela rangkaian B20 di Nusa Dua Bali, hari ini.

Direktur Corporate Planning & Business Development PLN Hartarto Wibowo mengatakan, kerjasama antara PLN Enjiniring, anak usaha PLN dengan IRT sebagai pengambang PLTU Jawa 9 & 10 ini ditujukan untuk kemungkinan penggunaan energi primer green amonia sebagai bahan bakar PLTU sebanyak 60% karena Jawa 9 & 10 sudah dilengkapi teknologi SCR.

"Kami harap studinya menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Dan ini akan menjadi cara kita agar coal power plant pun akan lebih ramah lingkungan," katanya dalam keterangannya, Senin (14/11/2022).

Lebih lanjut, Hartarto mengatakan, feasibility study yang dijalankan bisa rampung dalam waktu tiga bulan ke depan. Setelah itu, hasilnya bisa dipresentasikan ke Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Kementerian Energi dan Sumber Daya (ESDM).

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal EBTKE Dadan Kusdiana menyampaikan, sejauh ini sudah ada upaya keras baik dari pemerintah maupun PLN dalam melakukan dekarbonisasi untuk PLTU. Apa yang dilakukan pengelola PLTU Jawa 9 & 10 dengan teknologi SCR yang menggunakan 'green ammonia' menjadi satu opsi yang dikaji serius.

"Tak ada yang salah dengan batubara, karena sebagai produk ia bermanfaat. Hal yang kita hindari adalah batubara itu kan ujungnya ada C02. Karena itu kita harus cari cara bagaimana agar emisinya bisa berkurang atau terserap," ujarnya.

"Jalan yang paling praktis mungkin bisa dilakukan dengan mengganti PLTU batu bara. Tapi kan ada aset dan segala nilai keekonomian. Makanya kita berfikir jalan dekarbonisasi. Kalau (MoU) ini mengarah ke hidrogen dan amona, saya pikir ini jalan yang smart," sambung Dadan.

Bersambung ke halaman berikutnya. Langsung klik

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT