Naik Helikopter, Luhut Cek Lokasi Tambang dan Smelter Nikel di Pomalaa

ADVERTISEMENT

Naik Helikopter, Luhut Cek Lokasi Tambang dan Smelter Nikel di Pomalaa

Shafira Cendra Arini - detikFinance
Minggu, 27 Nov 2022 14:25 WIB
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menghadiri acara ground breaking di lokasi yang nantinya akan di bangun pertambangan nikel milik PT Vale Indonesia Tbk di Kecamatan Pomala, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.
Foto: Peresmian Area Pertambangan Vale (Shafira Cendra Arini/detikcom)
Pomalaa -

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menghadiri acara ground breaking di lokasi yang nantinya akan di bangun pertambangan nikel milik PT Vale Indonesia Tbk di Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.

Terpantau oleh detikcom, Minggi (27/11/2022), Luhut tiba di lokasi dengan menumpangi Helikopter berkode PK TPE. Turun dari kendaraan tersebut, terlihat sang menteri mengenakan kemeja putih. Nampak pula disampingnya CEO PT Vale Febriany Eddy.

Dari helipad, Luhut beserta jajarannya dibawa langsung menggunakan Toyota Alphard berplat RI 17, menuju ke titik acara ground breaking dilangsungkan.

Proyek Blok Pomalaa ini merupakan buah kerja sama PT Vale dengan perusahaan asal China, Zhejiang Huayou Cobalt Company atau yang akrab disebut Huayou. Blok seluas lebih dari 20 ribu hektar ini nantinya terbagi atas tiga bagian yakni area tambang, smelter atau pabrik pengolahan nikel, dan port atau pelabuhan untuk keperluan pengangkutan.

Nantinya, smelter tersebut diperuntukkan mengolah biji nikel limonit menjadi produk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP). Pengolahan nikel dilakukan dengan teknologi High Pressure Acid Leaching atau HPAL. Produk MHP sendiri, diketahui bisa digunakan sebagai salah satu komponen baterai, yang bisa digunakan untuk kendaraan listrik.

Output tahunan yang diperkirakan dari proyek ini mencapai 120.000 ton nikel dan skeitar 15.000 ton kobalt yang terkandung dalam produk MHP. Investasi untuk proyek ini disebut-sebut mencapai US$ 4,5 miliar atau setara Rp 70,65 triliun (kurs Rp 15.700).

Sebelumnya, PT Vale juga telah memiliki sejumlah tambang dan smelter di Pulau Sulawesi, antara lain di kawasan Sorowako Sulawesi Selatan dan Morowali Sulawesi Tengah.

(dna/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT