Kembangkan Kendaraan Listrik, RI Musti Awasi Batu Sandungan Ini

ADVERTISEMENT

Kembangkan Kendaraan Listrik, RI Musti Awasi Batu Sandungan Ini

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Rabu, 30 Nov 2022 16:46 WIB
Ilustrasi mobil listrik
Foto: Getty Images/iStockphoto/Tramino
Jakarta -

Indonesia saat ini tengah fokus mendorong pengembangan kendaraan listrik. Baik pemerintah, BUMN hingga swasta turut menyambut upaya tersebut.

Namun bukan berarti industri yang dianggap menjadi masa depan ini tanpa tantangan. Beberapa di antaranya saling terkait, seperti teknologi yang masih dini dan minimnya pilihan kendaraan listrik di pasaran.

Direktur Utama PT VKTR Teknologi Mobilitas Gilarsi W. Setijono, yang turut serta dalam pengembangan industri ini mengatakan infrastruktur pendukung seperti SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) juga belum disiapkan. Ketiga faktor tersebut turut mempengaruhi harga akhir yang masih relatif tinggi.

"Faktor-faktor itu akhirnya membuat masyarakat kita merasa bahwa kendaraan listrik saat ini belum terlalu dibutuhkan," ucapnya, Kamis (30/11/2022).

Meski begitu menurut Gilarsi, industrialisasi kendaraan listrik tetap harus dibangun dan dikembangkan di Indonesia. Sebab saat ini di seluruh dunia, elektrifikasi memang menjadi salah satu yang diandalkan menjadi industri inti masa depan.

"Tantangannya adalah, beberapa hal mendasar perlu disiapkan terlebih dahulu seperti regulasi standar kendaraan listrik yang idealnya dapat segera diterbitkan Pemerintah, dalam waktu yang tidak terlalu lama", lanjut Gilarsi.

Menurutnya untuk mempercepat tumbuhnya industri ini memang diperlukan serangkaian ketentuan yang jelas. seperti aturan terkait operasional angkutan umum kendaraan listrik, kendaraan baru & kendaraan hasil retrofit, regulasi terkait dengan infrastruktur kendaraan listrik, aturan teknis produksi dan penggunaan baterai, hingga ketentuan terkait insentif pembiayaan dari Pemerintah untuk kendaraan listrik.

"Kita juga perlu meningkatkan keterjangkauan dengan menumbuhkan pabrikan lokal. Secara langsung hal ini akan menaikkan nilai ekonomis, sekaligus mematuhi aturan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN)," sebut Gilarsi.

Gilarsi menegaskan pihaknya tengah dan akan terus menjalin sinergi dan memperkuat koordinasi dengan pihak regulator, pelaku industri, dan instansi akademik, terutama berkenaan dengan skema bisnis dan pengembangannya di masa depan.

"Kami perlu lebih memperluas kerja sama dengan pelaku-pelaku industri di dalam ekosistem elektrifikasi ini. Dan yang paling penting, sebagai salah satu pelopor di industri ini, tentu kami akan selalu membutuhkan dukungan pemerintah dalam setiap tahap pengembangan," tutupnya.

VTKR sendiri bekerjasama dengan Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk 'Pemetaan Potensi Membangun Industri Elektrifikasi Transportasi Indonesia' dan pameran teknologi, di Kampus PENS, Surabaya.

Direktur PENS Aliridho Barakbah mengatakan bahwa selain VKTR, pihaknya juga mengundang sejumlah institusi seperti Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), PT PLN (Persero), dan PT INKA (Persero) untuk berpartisipasi secara langsung dalam diskusi tersebut.

"Kami berharap melalui FGD ini semua pihak bisa saling bersinergi lebih solid demi memetakan industri elektrifikasi transportasi, mengidentifikasi kendala, potensi dan peluangnya sehingga dapat segera kami kembangkan bersama-sama," ucap Aliridho.

(kil/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT