Dunia Lagi Krisis Energi, Bagaimana Solusinya?

ADVERTISEMENT

Dunia Lagi Krisis Energi, Bagaimana Solusinya?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Rabu, 30 Nov 2022 21:30 WIB
MANCHESTER, ENGLAND - OCTOBER 19: Night time falls behind electricity pylons and a sub station on October 19, 2022 in Manchester, England. The British utility company, National Grid, said this week that UK households may face power cuts this winter for up to three hours at a time, if gas supplies run low. The UK relies heavily on gas to produce electricity, and gas supplies to Europe have been severely disrupted by the fallout from Russias invasion of Ukraine (Photo by Christopher Furlong/Getty Images)
Ilustrasi Krisis Energi (Foto: Getty Images/Christopher Furlong)
Jakarta -

Banyak negara di dunia kini sedang menghadapi krisis energi. Paling terasa adalah naiknya harga energi dan urgensi perubahan iklim yang harus ditangani dengan cepat.

Dikutip dari laporan the Energy Efficiency Movement menyebutkan, industri harus melakukan efisiensi energi. Ini adalah cara efektif untuk pemangkasan biaya energi dan menekan emisi gas rumah kaca.

Laporan Industrial Energy Efficiency Playbook memuat rekomendasi 10 aksi nyata yang dapat dilakukan sektor bisnis dalam meningkatkan efisiensi energi, mengurangi beban biaya, dan menurunkan emisi saat ini. Hal ini dilakukan dengan mengandalkan solusi teknologi yang terintegrasi dan tersedia secara luas yang menjanjikan imbal hasil serta rasio pengembalian investasi (ROI) yang cepat dan mampu digunakan dalam skala besar.

"Efisiensi energi adalah solusi terbaik bagi perusahaan dan upaya pengendalian perubahan iklim," ujarSenior Program Manager, Energy Efficiency dari International Energy Agency (IEA) Kevin Lane dikutip dari laporan tersebut, Rabu (30/11/2022).

Dia menjelaskan isu perubahan iklim di seluruh dunia ini mendorong banyak negara untuk mengembangkan energi terbarukan. Investasi untuk pembangunan atau bisnis rendah karbon bisa menjadi peluang yang baik.

Menurut IEA, sektor industri merupakan konsumen listrik, gas alam, dan batu bara terbesar di dunia, yang bertanggungjawab terhadap 42% total permintaan listrik global, atau setara dengan lebih dari 34 exajoules energi.

Industri besi, baja, kimia, dan petrokimia merupakan pengguna energi tertinggi di antara lima (5) negara konsumen energi terbesar di dunia, yaitu China, Amerika Serikat, India, Rusia, dan Jepang. Konsumsi energi tersebut menyebabkan peningkatan beban biaya di tengah kontraksi inflasi dunia saat ini.

Tidak hanya itu, hal ini juga mengakibatkan produksi sembilan gigaton CO2, setara dengan 45% total emisi langsung yang dihasilkan sektor pengguna akhir pada tahun 2021, menurut IEA.

Laporan ini merupakan wawancara sejumlah organisasi multinasional antara lain ABB, Alfa Laval, DHL Group, IEA, Microsoft serta ETH Z├╝rich, Institut Teknologi Federal Swiss.

Para kontributor studi tersebut merekomendasikan beberapa solusi strategis, mulai dari audit energi hingga penentuan ukuran mesin industri yang tepat yang sering kali terlalu besar untuk melakukan proses produksi sehari-hari sehingga menyebabkan pemborosan energi.

Selain itu, memindahkan data dari on-site server ke cloud dapat membantu menghemat sekitar 90% energi yang digunakan sistem IT.

Hal ini diperkuat dengan mempercepat transisi armada di sektor industri dari yang berbahan bakar fosil ke armada berbahan bakar listrik, mengganti boiler gas ke pompa panas, atau menggunakan penukar panas yang terpelihara dengan baik untuk mengotimalkan efisiensi.

Aksi lainnya mencakup pemasangan sensor dan pemantauan energi digital secara real-time untuk mengungkapkan apa yang disebut 'ghost assets' pada saat penggunaan daya dalam kondisi stand-by, tidak seperti digital twin yang dapat mensimulasikan efisiensi tanpa mengganggu proses produksi. Selain itu penggunaan solusi smart building untuk mengontrol sistem tenaga, penerangan, tirai dan pemanas, ventilasi, dan pendingin udara (HVAC) juga akan menghemat energi di fasilitas industri.

Rekomendasi lebih lanjut menyebutkan pemasangan variable speed drive untuk meningkatkan efisiensi energi pada sistem penggerak motor hingga 30%, yang dapat menekan beban biaya dan mengurangi emisi. Jika lebih dari 300 juta sistem kelistrikan industri berbasis motor yang saat ini beroperasi dapat diganti dengan penggerak motor yang lebih optimal dan memiliki efesiensi tinggi, hal ini akan mengurangi konsumsi listrik global hingga 10%.

"Saat ini, telah tersedia solusi efisiensi energi yang dapat membantu industri memitigasi perubahan iklim dan menurunkan biaya energi, tanpa mengorbankan kinerja dan produktivitas," ujar President, Motion Business Area ABB Tarak Mehta.

Vice President, Head of Local Business Area, Motion, ABB Indonesia, Chen Kang Tan menambahkan bahwa dampak peningkatan efisiensi energi bervariasi dari satu sektor industri ke lainnya dan memberikan peluang efisiensi biaya dan emisi yang sangat besar. Ditambah lagi mitigasi pengendalian dampak perubahan iklim oleh sektor industri sangat dibutuhkan di berbagai tingkatan mengingat berbagai manfaat yang dapat dihasilkan dalam waktu singkat dengan tingkat risiko yang minim.

(kil/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT