Istana Mangkunegaran Jadi Cagar Budaya Pertama dengan Listrik EBT PLN

ADVERTISEMENT

Istana Mangkunegaran Jadi Cagar Budaya Pertama dengan Listrik EBT PLN

Erika Dyah - detikFinance
Kamis, 22 Des 2022 22:54 WIB
PLN
Foto: Dok. PLN
Jakarta -

Sosok Raja Mangkunegara X, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPPA) atau yang sebelumnya akrab disapa Bhre menuai pujian karena upaya memodernisasi Pura Mangkunegaran. Salah satunya, melalui revitalisasi pencahayaan dan sistem kelistrikan Istana Pura Mangkunegaran yang berusia ratusan tahun dengan cara modern.

Pria kelahiran 29 Maret 1997 ini didapuk menjadi raja pada 12 Maret 2022 lalu. KGPAA Mangkunegara X menjadi satu-satunya raja di Indonesia saat ini yang berusia muda.

Raja Mangkunegara X memakai Renewable Energy Certificated (REC) dari PLN untuk Istana Pura Mangkunegaran. Hal ini menjadikan Istana Pura Mangkunegaran sebagai cagar budaya pertama yang menggunakan listrik EBT melalui REC PLN. Menurutnya, ini merupakan bukti kepedulian Istana Pura Mangkunegaran terhadap isu lingkungan dan mendukung semangat transisi energi.

"Kami sangat mengapresiasi dukungan dari PLN dan juga pihak terkait dalam proyek revitalisasi dan penyediaan energi bersih melalui REC ini yang akan menghidupkan Pura Mangkunegaran menjadi lebih aktif, lebih produktif, dan hijau secara menyeluruh. Baik untuk pariwisata maupun kegiatan kebudayaan," ungkap Raja Mangkunegara X dalam keterangan tertulis, Kamis (22/12/2022).

Diketahui, kiprah KGPAA Mangkunegara X sebagai milenial pun bukan lah isapan jempol belaka. Dengan latar belakang pendidikan Sarjana Hukum dari Universitas Indonesia, ia tidak hanya menjadi raja yang mengampu kebudayaan kerajaan Mangkunegaran, Solo saja. Namun juga menjadi sosok muda berpendidikan yang terus mengobarkan semangat nguri nguri kebudayaan Jawa.

"Kalau bukan anak muda, lalu siapa lagi yang bisa meneruskan kebudayaan Indonesia? Budaya yang memang sudah diwariskan dari turun temurun tentu harus terus dilanjutkan," ujar KGPAA Mangkunegara X yang kini berusia 25 tahun tersebut.

"Bukan berarti anak muda tidak bisa berkiprah di kancah budaya, justru anak muda menjadi kunci dari pelestarian budaya," sambungnya.

Meski keagungan Kerajaan Mangkunegaran tak lepas dari warisan leluhur, KGPAA Mangkunegara X memiliki misi untuk membuat kerajaan terus bertumbuh dan relevan terhadap perkembangan zaman.

"Tanpa mengurangi eksklusivitas, tapi kami di Mangkunegaran ingin menjadi wadah yang inklusif bagi siapapun masyarakat untuk melestarikan budaya Indonesia, khususnya budaya Jawa," tambahnya.

Menurut dia, salah satu cara menjadikan Mangkunegaran tetap menjadi Pusat Budaya Jawa sekaligus menjadi wadah yang nyaman bagi kelompok milenial untuk melestarikan budaya adalah dengan membenahi Istana Mangkunegaran.

Ia menegaskan langkah memodernisasi Istana Mangkunegaran tak lantas mengubah keistimewaan Mangkunegaran. Justru dengan perkembangan zaman modern saat ini, Istana Mangkunegaran harus tetap bisa beradaptasi tanpa mengurangi keagungan peninggalan leluhur.

"Hal ini juga menjadi bagian dari tugas kami sebagai pusat budaya di Mangkunegaran untuk bisa memperkenalkan dan mengembangkan kebudayaan dengan cara yang relevan dengan perkembangan zaman," pungkasnya.

(akn/hns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT