Bahlil Buka Suara soal Stok BBM di SPBU Swasta Kosong

Bahlil Buka Suara soal Stok BBM di SPBU Swasta Kosong

Heri Purnomo - detikFinance
Sabtu, 30 Agu 2025 09:27 WIB
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan paparan kinerja Kementerian ESDM pada semester I 2025 di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (11/8/2025). Bahlil Lahadalia menyampaikan realisasi investasi di sektor ESDM pada semester I 2025 mencapai 13,9 miliar dolar AS atau setara dengan Rp225,8 triliun, sedangkan realisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) di sektor ESDM mencapai Rp138,8 triliun atau 54,5 persen dari target. ANTARA FOTO/Fauzan
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia.Foto: ANTARA FOTO/Fauzan
Jakarta -

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mendorong badan usaha swasta yang menyalurkan Bahan Bakar Minyak (BBM) seperti Shell dan BP-AKR untuk membeli produk BBM dari PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) jika produknya masih mengalami kekosongan.

Bahlil mengatakan langkah ini dinilai penting untuk menjaga neraca perdagangan Indonesia. Pasalnya, badan usaha swasta yang menyalurkan Bahan Bakar Minyak (BBM) swasta itu sudah diberikan tambahan 10% kuota impor BBM-nya.

"Jadi contoh kalau di 2024 perusahaan A mendapat 1 juta, maka di 2025 dia mendapat 1,1 juta. Oke, dan itu sudah kita lakukan. Nah kalau ada yang masih kurang ya silakan beli juga di Pertamina, kan Pertamina juga barangnya ada di kilangnya," ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Jumat (29/8/2025).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Karena ini terkait dengan neraca ekspor impor kita. Saya pikir bukan kita pilih kasih, semuanya kita kasih, tapi kan harus ada juga bagian-bagiannya yang harus kita jaga demi kondisi negara kita," tambahnya.

Bahlil menegaskan stok BBM yang dihasilkan PT KPI masih banyak. Dengan opsi membeli dari Pertamina, pemerintah berharap distribusi BBM tetap lancar dan masyarakat tidak terganggu kelangkaan pasokan di SPBU non-Pertamina.

ADVERTISEMENT

"Saya mengecek stok di Pertamina masih banyak. Saya kan harus menjaga neraca komoditas. Jadi salah satu indikator kita itu punya lifting dan produksi baik, dan itu lebih bagus kalau mengurangi impor, bukan menambah impor," ujarnya.

(rrd/rrd)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads