Transformasi industri nasional memasuki babak penting. Pemerintah kini berpacu menuntaskan 18 proyek hilirisasi strategis senilai Rp618,13 triliun sebelum akhir tahun 2025, sebuah langkah besar dalam perjalanan menuju kemandirian ekonomi dan energi Indonesia.
Upaya ini bukan sekadar proyek investasi, tetapi wujud nyata dari visi besar Presiden Prabowo Subianto untuk menjadikan Indonesia negara industri yang kuat, berdaya saing, dan mandiri secara energi.
Program ini menjadi pilar utama dalam strategi hilirisasi lintas sektor, mulai dari energi, mineral, hingga pertanian dan perikanan, yang dirancang untuk memutus ketergantungan pada ekspor bahan mentah. Pemerintah berkomitmen menjadikan hilirisasi sebagai motor penggerak ekonomi bernilai tambah tinggi, membuka lapangan kerja baru, serta memperkuat rantai pasok industri nasional dari Sabang hingga Merauke.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan prastudi kelayakan (feasibility study) dari 18 proyek tersebut rampung sebelum akhir tahun ini. Setelah rampung, proyek akan segera memasuki tahap konstruksi pada 2026.
"Pasti (eksekusi) akan bertahap. Tapi semuanya pasti akan selesai akhir tahun ini. Karena harus segera dieksekusi proyeknya," kata Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Ahmad Erani Yustika, dikutip Selasa (11/11/2025).
Menurut Erani, setiap proyek memiliki tingkat kompleksitas berbeda, mulai dari pembangunan refinery, fasilitas penyimpanan (storage), hingga pengolahan alumina dan silika. Salah satu prioritas utama adalah proyek Dimethyl Ether (DME), yang akan mengurangi ketergantungan impor LPG sekaligus memanfaatkan potensi besar produksi gas domestik.
Arahan Presiden dan Komitmen Transformasi
Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya percepatan proyek hilirisasi lintas sektor dalam rapat terbatas di Istana Merdeka. Ia menekankan agar seluruh proyek strategis bernilai lebih dari Rp600 triliun tersebut dapat segera diselesaikan dan memasuki tahap pembangunan fisik pada 2026.
"Percepatan hilirisasi baik di sektor perikanan, kemudian di sektor pertanian, dan di sektor energi dan mineral batu bara. Tadi kami sudah membicarakan setelah pulang dari Cilegon, arahan Bapak Presiden dari 18 proyek yang sudah selesai pra-FS, dan sudah dibicarakan dengan Danantara, kita akan selesaikan di tahun ini untuk semuanya," ujar Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
Bahlil menegaskan, proyek-proyek ini akan menjadi langkah konkret dalam industrialiasi nasional dan penciptaan lapangan kerja baru di berbagai daerah.
"18 proyek yang sudah siap pra-FS. Dengan total investasi sebesar USD 38,63 miliar, atau setara dengan Rp618,3 triliun. Ini di luar ekosistem baterai mobil," kata Bahlil.
Peran Danantara dalam Pembiayaan dan Penyempurnaan Proyek
Meski telah mencapai tahap pra-studi kelayakan, dokumen tersebut kini tengah disempurnakan oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).
Bahlil menjelaskan, lembaga ini memiliki kapasitas pendanaan dan keahlian untuk melakukan studi lanjutan sebelum proyek benar-benar dieksekusi.
"Jadi memang ini belum sempurna, namanya aja pra-FS. Sudah barang tentu untuk penyempurnaannya ini, kita serahkan kepada Danantara, karena Danantara yang punya uang untuk melakukan penyempurnaan," ujarnya.
Koordinasi antara Satgas Hilirisasi dan Danantara kini difokuskan pada penyusunan skema pembiayaan, model bisnis, lokasi pembangunan, hingga mitigasi sosial-lingkungan. Pemerintah memastikan agar seluruh proyek berjalan terintegrasi dan berkelanjutan, tanpa mengorbankan aspek sosial maupun lingkungan hidup.
"Itu (proyek hilirisasi) akan menciptakan lapangan pekerjaan yang baik dengan upah yang layak. Bukan lagi upah UMR (Upah Minimum Regional)," tegas Bahlil.
Dukungan Pendanaan dan Investasi Internasional
CEO Danantara, Rosan Roeslani, menyebut investasi di sektor hilirisasi kini menjadi kontributor utama realisasi investasi nasional. Hingga paruh kedua 2025, Danantara telah mengantongi komitmen pendanaan sebesar US$7 miliar dari sejumlah sovereign wealth fund internasional.
"Dari USD7 miliar itu, dengan Qatar USD4 miliar, kemudian dengan CIC (China Investment Corporation) USD2 miliar, dan juga kemudian dengan RDIF (Russian Direct Investment Fund). Dan kita sedang ada pembicaraan dengan Sovereign Wealth Fund lainnya untuk bersama-sama berinvestasi terutama di Indonesia," ujar Rosan.
Pendorong Industrialisasi dan Kemandirian Ekonomi
Pemerintah menaruh harapan besar bahwa rampungnya studi kelayakan pada 2025 akan menjadi landasan kuat untuk industrialisasi nasional. Dengan total nilai investasi Rp618 triliun, proyek-proyek ini diharapkan mampu menyerap lebih dari 270 ribu tenaga kerja, memperkuat ketahanan energi nasional, serta mempercepat substitusi impor LPG melalui pengembangan DME.
Transformasi hilirisasi ini juga menjadi bukti bahwa Indonesia telah memasuki era baru industri berbasis nilai tambah. Sinergi lintas kementerian, lembaga investasi, dan BUMN strategis menjadi wujud kolaborasi nyata untuk mewujudkan ekonomi berdaulat dan inklusif.
Dengan langkah yang terukur dan penuh optimisme, pemerintah yakin bahwa hilirisasi bukan sekadar jargon ekonomi, tetapi jalan panjang menuju Indonesia yang mandiri, maju, dan berdikari di atas kekayaan alamnya sendiri.
(ega/ega)











































