PLN Indonesia Power melakukan uji coba lanjutan cofiring hidrogen di PLTDG UBP Bali Pesanggaran pada 18-20 November 2025. Pengujian ini melanjutkan tes tahun sebelumnya dan menjadi tahap pra-operasi sebelum penerapan lebih luas. Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Agus Pramono ikut hadir menyaksikan langsung proses tersebut.
Direktur Utama PLN Indonesia Power Bernadus Sudarmanta menyampaikan apresiasinya atas keberhasilan rangkaian pengujian. Ia menyebut implementasi cofiring hidrogen bukan hanya capaian teknis, tetapi langkah penting dalam memperluas teknologi energi bersih.
"Keberhasilan pengujian cofiring hidrogen di PLTDG UBP Bali ini menegaskan kesiapan Indonesia Power untuk memasuki fase transisi energi yang lebih maju. Hidrogen bukan lagi sekadar wacana, tetapi sudah kami uji dan buktikan dapat diterapkan secara nyata dan aman di aset pembangkitan. Ini adalah fondasi penting bagi upaya kami menurunkan emisi, meningkatkan efisiensi, sekaligus memperkuat portofolio energi bersih perusahaan. Kami bertericofiring kepada seluruh mitra yang telah berkontribusi, dan Indonesia Power akan terus melanjutkan inovasi demi mendukung target Net Zero Emission 2060," ujar Bernadus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
VP Technology Development sekaligus penanggung jawab program, Hedwig Lunga Sampe Pajung, menjelaskan pengujian tahun ini dilakukan lebih komprehensif dibandingkan pada 2024. Saat itu uji hanya dilakukan di beban penuh 100% dengan rasio cofiring 7%. Tahun ini, tes mencakup tiga level beban.
"Pengujian kali ini kami lakukan pada beban 75%, 85%, dan 100% kapasitas mesin. Hasilnya, rasio cofiring hidrogen mencapai 23% pada beban 75%, 22% pada 85%, dan 17% pada 100%. Dengan variasi ini, kami bisa melihat perilaku mesin di berbagai kondisi operasi dan menentukan batas maksimum hidrogen yang aman untuk setiap level beban," jelas Hedwig.
Hedwig menambahkan, pengembangan teknis difokuskan pada sistem suplai hidrogen melalui Pressure Regulator System (PRS) berbasis PLC dan HMI untuk mengatur injeksi lebih akurat dan aman.
"Dengan kontrol elektronik penuh, proses feeding hidrogen menjadi jauh lebih stabil dan presisi," tambahnya.
Tim juga mencatat indikasi peningkatan efisiensi pembakaran. Pada beban yang sama, konsumsi energi total (gas alam + hidrogen) tercatat lebih rendah dibandingkan pembakaran murni gas alam. Efek ini diduga muncul akibat hidrogen yang membantu pembakaran lanjutan karbon monoksida (CO), terlihat dari kadar emisi CO yang lebih rendah saat cofiring.
Hedwig mengatakan, cofiring hidrogen menjadi bagian dari dukungan perusahaan terhadap roadmap transisi energi nasional menuju NZE 2060. Ia menilai hasil pengujian menunjukkan peluang hidrogen untuk dipakai lebih berkelanjutan ke depan.
"Jika keekonomiannya juga terpenuhi, hidrogen dapat disuplai secara kontinu sebagai bagian dari strategi dekarbonisasi pembangkitan," ujarnya.
(fdl/fdl)










































