Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, mengumumkan akan mengambil alih cadangan minyak Venezuela. Langkah ini dilakukan melalui pengerahan perusahaan-perusahaan minyak AS untuk berinvestasi miliaran dolar.
Dikutip dari CNN, Venezuela disebut memiliki cadangan minyak 303 miliar barel berdasarkan Badan Informasi Energi AS (EIA). Meski kontrak berjangka minyak Venezuela tidak diperdagangkan di akhir pekan, pergerakan harga minyak akan sulit diprediksi menyusul pengumuman Trump yang hendak mengambilalih sementara pemerintahan Venezuela.
"Kita akan mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak besar Amerika Serikat-yang terbesar di dunia-untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, dan memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak," kata Trump dikutip dari CNN, Minggu (4/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut laporan CNN, reformasi yang dipimpin AS dapat menjadikan Venezuela sebagai pemasok minyak dunia dengan peran yang lebih besar. Venezuela juga disebut menjadi sumber produksi baru yang dapat menjaga stabilitas harga meski lebih rendah.
Namun begitu, pemulihan produksi minyak di Venezuela membutuhkan waktu bertahun-tahun dengan biaya yang besar. Perusahaan minyak BUMN Venezuela, Petroleos de Venezuela (PDVSA) mencatat, terdapat jaringan pipanya belum diperbarui selama 50 tahun dengan biaya perbaikan infrastruktur sebesar US$ 58 miliar.
"Bagi industri minyak, ini berpotensi menjadi peristiwa bersejarah," kata analis pasar senior Price Futures Group, Phil Flynn.
"Rezim Maduro dan (mantan Presiden Venezuela) Hugo Chavez pada dasarnya telah menjarah industri minyak Venezuela," tambahnya.
Flynn menjelaskan, Venezuela terbukti memiliki cadangan minyak dengan potensi yang jauh lebih besar dari produksinya saat ini. Venezuela tercatat hanya memproduksi sekitar 1 juta barel minyak per hari, atau sekitar 0,8% dari produksi minyak mentah global.
Angka tersebut tercatat menurun dibanding kepemimpinan sebelum Maduro, di mana pada tahun 2013 Venezuela sempat mencatat produksi minyak sebesar 3,5 juta barel per hari. Hal ini terjadi karena buruknya infrastruktur energi di Venezuela.
Kurangnya investasi dan pemeliharaan alat produksi di Venezuela juga disebut menjadi pemicu turunnya produksi minyak. Selain itu, Venezuela juga didera sanksi internasional dan krisis ekonomi memperburuk penurunan industri minyak negara itu.
Flynn mengatakan, Venezuela memiliki jenis minyak mentah berat dan asam yang membutuhkan peralatan khusus dan keahlian teknis tingkat tinggi untuk diproduksi. Perusahaan minyak internasional memiliki kemampuan untuk mengekstrak dan memurnikannya, namun dibatasi untuk masuk ke negara tersebut.
Jenis minyak Venezuela disebut penting untuk produk yang dibuat melalui proses penyulingan seperti solar, aspal, dan bahan bakar untuk pabrik dan peralatan berat lainnya. Adapun pasokan solar terbatas di dunia karena sanksi terhadap minyak Venezuela.
Menurut Flynn, akses minyak Venezuela sangat menguntungkan AS. Selain karena letak Venezuela dekat dengan AS dan minyaknya relatif murah, produk minyak yang kental dan berlumpur juga membutuhkan pemurnian signifikan.
Sebagian besar kilang minyak AS dibangun untuk memproses minyak berat Venezuela. Menurut Flynn, kilang-kilang tersebut jauh lebih efisien ketika menggunakan minyak Venezuela dibandingkan minyak AS.
"Jika memang ini terus berjalan lancar - dan sejauh ini tampaknya merupakan operasi yang luar biasa - dan perusahaan-perusahaan AS diizinkan untuk kembali dan membangun kembali industri minyak Venezuela, ini bisa menjadi perubahan besar bagi pasar minyak global," kata Flynn.
Adapun sebelumnya, Trump menyebut bisnis minyak Venezuela gagal total. Pasalnya, produksi minyak di kepemimpinan Maduro dianggap tidak sebanding dengan potensi yang dimiliki Venezuela.
"Mereka hampir tidak memompa apa pun jika dibandingkan dengan apa yang seharusnya bisa mereka pompa dan apa yang seharusnya bisa terjadi," kata Trump.
(acd/acd)










































