Tak Jadi Impor 40 Kargo LNG, Bahlil Klaim RI Mandiri Gas

Tak Jadi Impor 40 Kargo LNG, Bahlil Klaim RI Mandiri Gas

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Kamis, 08 Jan 2026 14:51 WIB
Tak Jadi Impor 40 Kargo LNG, Bahlil Klaim RI Mandiri Gas
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia/Foto: Heri Purnomo/detikcom
Jakarta -

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan Indonesia tidak impor gas bumi sepanjang 2025. Meskipun, awal tahun lalu, pemerintah sempat berencana impor gas bumi.

Ia menjelaskan, awalnya pemerintah berencana untuk impor Liquefied Natural Gas (LNG) sebanyak 40 kargo di awal 2025. Namun ternyata produksi dalam negeri cukup untuk memenuhi kebutuhan Tanah Air, meski lifting gas bumi sepanjang tahun kemarin masih di bawah target.

Dalam paparannya, dijelaskan gas bumi sepanjang 2025 berada di level rata-rata 951,8 ribu barel setara minyak per hari (MBOEPD). Realisasi lifting gas bumi itu masih berada di bawah target APBN 2025 sebesar 1.005 MBOEPD.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya bersyukur kinerja SKK Migas, Dirjen Migas, bahwa sekalipun awal tahun terjadi dinamika tinggi untuk ada keinginan impor kurang lebih 40 kargo LNG di awal tahun, tapi berkat kerja keras kita semua, di tahun 2025 tidak ada kita melakukan impor gas," ucap Bahlil dalam konferensi pers Capaian Kinerja Sektor ESDM 2025 di kantornya, Jakarta Pusat, Kamis (8/1/2026).

ADVERTISEMENT

Lebih lanjut, Bahlil menjelaskan realisasi pemanfaatan gas bumi nasional pada 2025 kemarin mencapai 5.600 billion British thermal unit per day (BBtud). Dari jumlah tersebut, sebanyak 69% atau 3.908 BBtud digunakan untuk kebutuhan domestik, dan sisanya baru digunakan untuk ekspor.

"Jadi seluruh produksi kita sebagian kita pakai untuk dalam negeri, sebagian kita ekspor. Karena kalau gas itu supply demand harus sama karena storage-nya nggak sebesar minyak," paparnya.

Jika dibedah lebih jauh, penggunaan gas bumi untuk keperluan domestik sebagian besar disalurkan untuk menopang proyek hilirisasi sebesar 2.091 BBtud atau sekitar 37%. Kemudian sekitar 1.817 BBtud atau 32% untuk pemanfaatan domestik lainnya.

Dalam hal ini, pemanfaatan domestik lainnya yang dimaksud adalah untuk bahan bakar gas (BBG), jaringan gas bumi untuk rumah tangga (Jargas), peningkatan produksi Migas, ketenagalistrikan, LNG dan LPG.

"Gas dari total produksi kita, 31% kita ekspor, 69% untuk konsumsi domestik. Dari 69% itu adalah hilirisasinya 37%" tegas Bahlil.

Tonton juga video "Tok! Kuota Impor BBM SPBU Swasta Naik 10%"

(igo/fdl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads