Pemerintah menargetkan setop impor solar pada pertengahan 2026. Target tersebut ada karena telah diresmikannya operasional Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan, Kalimantan Timur oleh Presiden Prabowo pada Senin (12/1/2026).
Bahlil mengatakan proyek ini merupakan titik balik dalam memperkuat pasokan bahan bakar minyak (BBM) nasional. Proyek dengan nilai investasi sekitar US$ 7,4 miliar atau setara Rp 123 triliun ini dapat meningkatkan kapasitas kilang dari 260 ribu menjadi 360 ribu barel per hari dengan kualitas setara Euro V yang lebih ramah lingkungan.
Ditambah lagi adanya program program B40 menyumbang pasokan Fatty Acid Methyl Este (FAME) sebesar 15,9 juta kiloliter per tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Rencana Besar Setop Impor Bensin dan Solar! |
Kemudian juga akan ada pengembangan ke B50 yang dinilai bisa mencukupi kebutuhan solar dalam negeri.
"Dengan kapasitas produksi nasional solar mencapai 26,5 juta kiloliter per tahun dan kebutuhan 23,9 juta kiloliter, pemerintah menargetkan penghentian impor solar mulai pertengahan 2026," ujar Bahlil dikutip dari Instagram @bahlillahadalia, Selasa (13/1/2026).
Bahlil mengatakan langkah untuk setop impor solar ini telah sesuai dengan arahan dari Prabowo Subianto yang menginginkan adanya swasembada energi.
"Langkah ini sejalan dengan arahan Bapak Presiden untuk mempercepat kedaulatan energi melalui peningkatan kapasitas kilang, diversifikasi energi, dan keseimbangan pasokan nasional," terangnya.
Tonton juga video "Prabowo Sentil Ada Orang RI Serakah Mau Atur Impor dari Luar"
(hrp/hns)










































