Bahlil Buka-bukaan Rapat Bareng Petinggi Pertamina sampai Jam 2 Pagi

Bahlil Buka-bukaan Rapat Bareng Petinggi Pertamina sampai Jam 2 Pagi

Heri Purnomo - detikFinance
Kamis, 22 Jan 2026 22:28 WIB
Bahlil Buka-bukaan Rapat Bareng Petinggi Pertamina sampai Jam 2 Pagi
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil LahadaliaFoto: Anggi Muliawati/detikcom.
Jakarta -

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan sempat rapat dengan para direksi dan komisaris PT Pertamina (Persero) sampai jam 2 pagi. Rapat tersebut membaha rencana setop impor solar, bensin nonsubsidi, dan avtur.

Awalnya Bahlil ditanya anggota Komisi XII dalam Rapat Kerja pada hari ini terkait langkah ke depan terkait energi di Indonesia.

Bahlil menjelaskan diperintahkan Presiden Prabowo Subianto mewujudkan kedaulatan energi, ketahanan energi, kemandirian energi, dan swasembada energi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Soal ketahanan energi, Bahlil menyatakan ketahanan energi Indonesia hanya mencapai 21 hari. Sementara berdasarkan konsesus internasional itu selama tiga bulan.

Dengan kondisi itu, Indonesia perlu membuat kilang agar bisa mengolah minyak mentah menjadi BBM, sehingga tidak impor lagi.

ADVERTISEMENT

"Maka yang harus kita lakukan sekarang adalah mendorong Pertamina untuk segera membangun kilang-kilang atau melakukan ekspansi kilang-kilang supaya produksinya bisa memenuhi tingkat konsumsi," ujar Bahlil dalam rapat dengan Komisi XII DPR, di Jakarta, Kamis (22/1/2026).

"Saya minta kemarin dengan Pertamina, saya pimpin dapat sampai jam 2 malam, 2 subuh. Ada yang mengatakan, Pak, butuh investasi. Saya bilang, ya ini butuh investasi. Presiden Prabowo mengatakan bahwa at any cost. Ini bicara survival. Kalau kita bicara survival, kita harus bicara totalitas, jangan bicara setengah-setengah," sambung Bahlil.

Bahlil memaparkan, kebutuhan solar nasional sat ini mencapai sekitar 38 juta kiloliter per tahun. Sementara produksi dalam negeri hanya berkisar 14-16 juta kiloliter. Kekurangan tersebut selama ini ditutup melalui program campuran bahan bakar nabati B40.

Untuk bensin, konsumsi nasional mencapai 39-40 juta kiloliter per tahun, sementara produksi domestik hanya sekitar 14 juta kiloliter. Pada 2025, impor bensin diperkirakan masih berada di kisaran 24-25 juta kiloliter.

Namun, dengan beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan yang dapat menambah produksi sekitar 5,8 juta kiloliter per tahun, impor bensin pada 2026 diproyeksikan turun menjadi sekitar 19 juta kiloliter.

"Dengan penambahan 5,8 juta, maka kurang lebih sekitar 19 juta lebih untuk kita impor di 2026 bensin. Maka kemudian saya membuat, caranya bagaimana agar kita mengurangi impor, langsung kita melakukan mandatori etanol. Kalau etanolnya 10%, itu dapat melakukan efisiensi impor sebesar 3,9 juta," katanya.

Bahlil menjelaskan bahwa langkah-langkah tersebut merupakan strategi yang dilakukan untuk bisa menuju kemandirian energi.

"Ini baru kita bicara tentang menuju kepada apa yang disebutkan kemandirian energi. Maka apa yang harus dilakukan? Tidak bisa sekaligus kita lakukan, harus bertahap. Karena kita sudah ketinggalan. Kalau jujur saya katakan, dari lubuk hati yang pada dalam, ini by design dibuat, untuk kita tetap tergantung kepada impor. Kalau mau ditanya menteri siapa yang anti-impor? Saya," katanya.

Bahlil manambahkan pemerintah menargetkan penghentian impor Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis bensin non-subsidi yakni bensin RON 92, RON 95, dan RON 98 pada 2027. Pada tahun tersebut juga akan setip impor avtur.

"Karena bentuk impor ini adalah bentuk anak boba'an (anak yang sedang tidur) untuk melakukan sebuah proses agar kita tergantung terus pada negara lain. Dan saya tidak mau seperti ini terus. Maka apa yang kita lakukan? Untuk RON 95, 92, 98, kita segera mengurangi, dan 2027 tidak boleh kita impor lagi," katanya.

Simak juga Video Bahlil Sanksi Anak Buah Usai Kehilangan 2 Juta Barel Minyak di Sumatera

(hrp/hns)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads