Nasib Nikel RI di Tengah Ketatnya Persaingan Teknologi Baterai

Nasib Nikel RI di Tengah Ketatnya Persaingan Teknologi Baterai

Ilyas Fadilah - detikFinance
Senin, 02 Feb 2026 20:30 WIB
Nasib Nikel RI di Tengah Ketatnya Persaingan Teknologi Baterai
Pekerja menggunakan pakaian tahan api saat mengeluarkan biji nikel dari tanur dalam proses furnace di smelter PT Vale Indonesia Tbk di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Selasa (21/10/2025).Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Jakarta -

Indonesia Battery Corporation (IBC) menilai baterai berbasis nikel dapat bersaing dengan baterai lithium iron phosphate atauLiFePO4 (LFP) di pasar global. Hal ini didasarkan pada permintaan baterai nickel-mangan-cobalt (NMC) yang meningkat secara volume.

Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif mengatakan, tekanan terhadap NMC terjadi karena perubahan komposisi teknologi, bukan karena permintaan yang melemah. Secara keseluruhan, pasar baterai global tumbuh sehingga permintaan baterai berbasis nikel tetap naik.

"Tapi secara volume sebetulnya katoda jenis NMC itu permintaannya meningkat, karena memang size dari marketnya sendiri meningkat dengan sangat tajam. Apabila kita mengacu pada teknologi per hari ini saja, kita masih sangat optimis bahwa kita bisa memasarkan baterai ion lithium berbasis katoda nikel kita," katanya dalam rapat dengan Komisi XII DPR RI di Jakarta, Senin (2/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Aditya menjelaskan, teknologi baterai yang diproyeksikan segera terkomersialisasi adalah sodium ion battery, yakni baterai yang menggantikan lithium dengan natrium agar lebih murah. Untuk teknologi ini, salah satu kandidat katoda terkuat masih berbasis nikel, besi, dan mangan.

"Per hari ini teknologi yang akan digunakan untuk baterai jenis sodium ion ini salah satu kandidat kuatnya masih berbasis nikel. To be precise nickel, besi, dan mangan," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Selain itu, pengembangan solid state battery juga dinilai masih akan menggunakan nikel sebagai bahan utama. Oleh karena itu Aditya yakin nikel Indonesia masih dapat bersaing di pasar global.

Namun, Aditya menekankan daya saing baterai nikel sangat bergantung pada biaya produksi. Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan fluktuasi harga nikel, melainkan harus meningkatkan efisiensi industri agar produk turunan nikel tetap kompetitif.

"Tapi kalau kedepan kita tidak bisa bergantung saja pada volatilitas dari harga nikel. Kedepan kita harus melakukan inovasi bagaimana caranya supaya proses industri nya itu bisa lebih efisien, salah satunya dengan memotong rantai industri sehingga cost-nya bisa kita cut. Oleh karena itu IBC menekankan pentingnya ownership dari teknologi," tutup Aditya.

(acd/acd)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads