Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi meluncurkan Global Hydrogen Ecosystem Summit (GHES) 2026 di Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Jakarta, Selasa (10/2/2026). Langkah ini dilakukan sebagai upaya pengembangan ekosistem hidrogen dan memperkuat ketahanan energi nasional.
Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Eniya Listiani, menjelaskan agenda ini digelar sebagai upaya menumbuhkan ekosistem industri. Selama ini, hidrogen baru dipakai untuk industri pupuk, mentega dan minyak goreng.
"Industrinya selama ini mungkin hidrogen hanya dipakai untuk pupuk, dipakai untuk bahan baku mentega, minyak goreng, terus deterjen. Nah sekarang dikenalkan hidrogen sebagai bahan baku untuk energi. Nah di sini kita harapkan perlu wadah-wadah yang seperti ini mengakomodir bisnis matching," ungkap Eniya kepada wartawan di Gedung Direktorat Jenderal EBTKE, Jakarta, Selasa (10/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri ESDM, Yuliot, menyebut pengembangan ekosistem hidrogen menjadi strategi mendorong ketahanan pangan dan hilirisasi industri. Indonesia sendiri Indonesia disebut memiliki potensi energi baru terbarukan (EBT) mencapai sekitar 3.600 GWh.
Ia menjelaskan, saat ini konsumsi hidrogen nasional mencapai sekitar 1,75 juta ton per tahun, dengan pemanfaatan terbesar untuk sektor pupuk urea sebesar 88%, amonia 4%, dan kilang minyak 2%. Menurutnya, hidrogen juga dinilai mampu mengurangi ketergantungan impor energi.
Adapun salah satu proyek hilirisasi gasifikasi batubara di Tanjung Enim yang ditargetkan mengolah sekitar 6 juta ton batubara per tahun dan menghasilkan 1,4 juta ton dimethyl ether (DME). Proyek ini diperkirakan dapat menekan impor LPG hingga 1 juta ton per tahun dan menghemat devisa sekitar Rp 9,7 triliun.
"Dengan potensi tersebut akan berpotensi mengurangi impor LPG sekitar 1 juta ton per tahun, yang berarti kita akan bisa menghemat devisa negara sekitar Rp 9,7 triliun per tahun," jelasnya.
Yuliot menambahkan, potensi investasi proyek ini bisa mencapai US$ 2,1 miliar. Potensi ini dianggap dapat mendorong pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Sementara dalam konteks energi bersih dan dekarbonisasi, ia menyebut hidrogen yang diproduksi dari sumber EBT bisa memproduksi amonia hijau, metanol hijau, dan bahan bakar sintetis.
"Produk ini memiliki prospek besar untuk pasar ekspor dan juga pemenuhan kebutuhan energi dan industri di dalam negeri," pungkasnya.
Lihat juga Video: Cina dan India Pimpin Produksi Hidrogen Hijau Murah











































