Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto menerima audiensi delegasi 15 CEO perusahaan inovasi energi dan teknologi asal Inggris. Pertemuan ini membahas peluang kerja sama percepatan listrik perdesaan dan pembangunan desa di Indonesia.
Delegasi tersebut terdiri dari pimpinan sejumlah perusahaan teknologi energi dan iklim asal Inggris, antara lain Carruthers Renewables yang mengembangkan mikrohidro off-grid, Centre for Energy Equality (CEE) dengan solusi energi inklusif, Eja-Ice yang fokus pada rantai dingin tenaga surya untuk pangan dan kesehatan, Propel and Power dengan turbin laut tanpa baling-baling untuk wilayah pesisir, serta Compact Syngas Solutions yang mengolah limbah menjadi energi.
Pembahasan difokuskan pada solusi penyediaan listrik di wilayah terpencil dan kepulauan, termasuk pengembangan sistem energi terbarukan terdesentralisasi seperti off-grid dan mini-grid. Selain itu, kerja sama juga diarahkan untuk memperkuat pasokan listrik bagi BUMDes dan Koperasi Desa Merah Putih, serta mendukung cold chain pangan dan layanan dasar di desa. Sejumlah skema proyek percontohan atau pilot project turut dibahas sebagai tahap awal implementasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yandri menyambut baik rencana kolaborasi tersebut dan menegaskan pemerintah membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak untuk membangun desa.
"Ada 75.266 Desa jadi harus kolaborasi untuk bangun desa," kata Mendes Yandri, Rabu (11/2/2026).
Ia menjelaskan, Kemendes PDT memiliki 12 Program Prioritas yang dapat dikolaborasikan dengan para CEO tersebut. Salah satunya adalah program Desa Ekspor yang menargetkan pembangunan 5.000 desa dengan beragam potensi unggulan.
"Kami juga punya program Desa Tematik menyesuaikan potensi desa yang diperuntukkan sebagai penyuplai bahan baku program Pemerintah yaitu Makan Bergizi Gratis," ujar Yandri.
Selain itu, terdapat program Desa Berketahanan Iklim hingga Desa Bebas Sampah yang juga dinilai relevan untuk dikolaborasikan.
Yandri menekankan, kerja sama internasional harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat desa. "Kami ingin kolaborasi ini menghasilkan solusi yang benar-benar bisa dipakai di desa," katanya.
Delegasi CEO Inggris dikoordinasikan oleh Jillian Henderson selaku Lead kolaborasi internasional dalam program Innovate UK Energy Access Brokerage. Program ini memfasilitasi pertemuan antara inovator Inggris dan mitra pemerintah Indonesia.
"Indonesia punya tantangan geografis yang kompleks sekaligus peluang besar untuk model energi terdesentralisasi. Kami ingin memulai dari proyek nyata di desa, bekerja bersama BUMDes dan pemerintah daerah, agar dampaknya cepat dirasakan," kata Jillian Henderson.
Para CEO Inggris menyatakan ketertarikan untuk berkolaborasi dengan Kemendes PDT dalam mendukung sejumlah program yang masuk dalam 12 Rencana Aksi kementerian.
Audiensi ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Innovate UK Energy Access Brokerage di Indonesia, yang mempertemukan inovator Inggris dengan pemangku kepentingan nasional guna membuka peluang kolaborasi proyek listrik perdesaan, energi terbarukan, serta penguatan ekonomi desa berbasis teknologi.
(fdl/fdl)










































