Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia buka suara merespons pihak-pihak yang meragukan lifting minyak nasional tembus 605 ribu barel/hari.
Menurut Bahlil keraguan tersebut datang dari salah satu anggota DPR dan salah satu menteri.
"Kok ada salah satu anggota DPR dan salah satu menteri yang mengatakan bahwa bagaimana mungkin lifting naik sementara sumur besar belum ada. Eh ini terlalu banyak baca buku nih," katanya dalam acara Kuliah Umum yang diselenggarakan di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (12/2//2205).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahlil menejelaskan saat ini memang belum ada penemuan sumur baru yang besar. Namun capaian lifting tahun 2025 sebesar 605 ribu barel tersebut terjadi karena adanya sejumlah strategi yang ia telah lakukan.
Bahlil bilang pihaknya melakukan terhadap sejumlah sumur yang ada di Indonesia. Ia bilang saat ini ada sekitar kurang lebih 40.000 sumur. Namun yang sumur berproduksi hanya sekitar 17.000 sumur. Itu pun merupakan sumur-sumur tua.
Dari kondisi tersebut, maka perlu adanya optimalisasi teknologi melalui EOR, kemudian melakukan pengelolaan terhadap sumur-sumur yang nganggur atau idle well dengan melakukan kerja sama dengan pihak lain.
Kemudian mempercepat proses perizinan puluhan ribu sumur minyak masyarakat di sejumlah daerah agar dapat segera berkontribusi terhadap lifting nasional.
Langkah selanjutnya yakni melakukan ilmu tekan menekan. Artinya ia mendorong KKKS yang sudah melakukan POD untuk segera melakukan konstruksi untuk bisa produksi. Jika hal tersebut tak dilakukan maka akan dicabut izin produksinya.
Bahlil mencotohkan yang terjadi pada Inpex dan Exxon, pada tahun 2024 produksi Exxon hanya mencapai 140 ribu barel per day. Namun setelah ada komunikasi pihaknya dengan Exxon, maka produksi pasa tahun 2025 alami peningkatan.
"Dia lupa kalau kita itu komunikasi terus dengan K3S, cadangan kau jangan kau sembunyikan, kau naikin cepat. Kalau habis kita kasih kamu yang baru lagi. Kenapa mereka membuat pelan-pelan agar mereka mempunyai bisnis yang panjang, profitnya biar sedikit, yang penting panjang. Tapi kalau kita bilang kau naikin produksi, profitnya naik, waktunya pendek supaya panjang, kita kasih nilai kerja baru lagi, gitu loh," jelas Bahlil.
Sebelumnya, anggota Komisi XII DPR Fraksi PDIP Cornelis menanggapi pemaparan Kepala SKK Migas Djoko Siswanto soal lfiting minyak tahun 2025.
Cornelis mengaku bingung dengan perbedaan fakta dan data antara SKK Migas dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Ia menyebut, berdasarkan penjelasan Menteri Purbaya, lifting migas itu baru bisa naik jika ada penambahan sumur baru.
"Menkeu bilang lifting itu bisa naik kalau ada penambahan sumur baru, nah ini apakah ada penelitian sumur baru?" kata Cornelis saat rapat dikutip dari detiknews.
Dia menilai Menteri ESDM Bahlil yang bermain kata-kata. Cornelis mengaku bingung harus percaya dengan data Bahlil atau penjelasan Purbaya.
"Jadi perbedaan antara Menkeu dan Menteri ESDM ini kelihatannya Menteri ESDM hanya permainan kata-kata, permainan istilah, kalau kami lihatnya, atau dengarnya, cermatinya, analisisnya, masuk dalam otak kami yang bukan teknis ini, seolah-olah Menteri ESDM ya ada bohong-bohong sikit lah, pegangan kami yang mana yang benar ini, tolong Bapak beri penjelasan," tegas Cornelis.
Tonton juga video "Bahlil: RI Bakal Impor BBM-LPG dari AS Sebesar Rp 252 T"
(hrp/hns)










































