Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan impor solar jenis C-48 disetop tahun ini. Kebijakan ini seiring dengan peningkatan kapasitas kilang dalam negeri dan optimalisasi program mandatori biodiesel.
Bahlil bilang bahwa rencana Indonesia setop impor solar membuat banyak impor tak senang. Bahkan bikin mereka sakit perut.
"Maka di 2026 tidak lagi kita melakukan impor solar C-48. Informasi ini bagus bagi kita tapi enggak bagus bagi importir. Ini yang saya mau bicara tentang kemandirian dan kedaulatan. Importir pasti sakit perut," ujar Bahlil dalam acara Kuliah Umum di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (12/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahlil bilang konsumsi solar Indonesia per tahunnya mencapai 38 sampai 39 juta kiloliter. Dari total tersebut, 15 sampai 16 juta kiloliter diimpor.
Namun, melalui kebijakan pencampuran biodiesel bertahap dari B10, B20, B30 hingga B40 yang telah berjalan, impor solar berhasil ditekan.
"Maka kita sekarang impor kita di tahun 2025 terhadap solar tidak lebih dari 5 juta kiloliter. Selebihnya itu sudah ada di dalam negeri. Campuran dari lifting dan refinery kita ditambah dengan B40," terang Bahlil.
"Nah di 2026 Bapak Ibu semua sudah kita canangkan karena refinery kita yang ada di Balikpapan tambah 100.000 barel itu kurang lebih tambah 3 sampai 4 juta kiloliter," tambahnya.
(hrp/hns)










































