Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) captive atau PLTU untuk operasi industri di Indonesia terus meningkat. Pada periode 2019 hingga 2024, kapasitas pembangkit listrik captive meningkat dari 14 GW menjadi 33 GW.
Program Director of Research and Innovation, IESR Raditya Wiranegara mengatakan pembangkit Listrik Captive ini banyak digunakan di sektor industri padat energi seperti smelter nikel, aluminium, baja, dan industri pengolahan lainnya.
Sebagian besar jenis pembangkit listrik captive yang digunakan masih bersumber dari bahan bakar fosil seperti batu bara dan gas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Raditya mengatakan dibalik meningkatnya hal tersebut ini menciptakan dua risiko utama. Pertama risiko daya saing ekonomi akibat tekanan pasar global terhadap produk beremisi tinggi, dan kedua yakni ketidaksesuaian dengan target iklim dan komitmen Kesepakatan Paris.
"Apabila tidak dibatasi, pembangkit listrik captive berbasis fosil dapat membuat Indonesia semakin bergantung pada energi kotor dan sangat sulit untuk beralih ke energi bersih dalam puluhan tahun ke depan," ujarnya di Jakarta, Kamis (19/2/2026).
Raditya mengatakan saat ini ada tahap konstruksi sekitar 5 GW PLTU batu bara dan 2,5 GW PLTG berbasis gas. Diproyeksikan pada tahun 2060, kebutuhan permintaan listrik sektor industri akan meningkat sebesar 43% dari total kebutuhan nasional sekitar 1.813 TWh.
"Jika tidak diimbangi dengan penguatan dan perluasan jaringan, serta kemudahan akses pelaku industri terhadap energi terbarukan. Maka Pembangkit Listrik Captive ini dapat menjadi penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca di sektor ketenagalistrikan," ujarnya.
Adapun tercatat pada tahun 2024, emisi dari Pembangkit Listrik Captive meningkat mencapai 131 MtCO2 (sekitar 37% dari total emisi di sektor ketenagalistrikan). Jika pertumbuhan Pembangkit Listrik Captive fosil dibiarkan, maka pada tahun 2037 emisi CO2 akan mencapai 166 MtCO2 (RUKN 2025).
(hrp/hns)










































