Perang AS-Iran di Depan Mata, Harga Minyak Langsung Mendidih

Perang AS-Iran di Depan Mata, Harga Minyak Langsung Mendidih

Anisa Indraini - detikFinance
Sabtu, 21 Feb 2026 08:00 WIB
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump/Foto: DW (News)
Jakarta -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan membuat keputusan apakah melancarkan serangan militer terhadap Iran atau tidak. Keputusan itu akan disampaikan dalam waktu 10 hari ke depan.

"Jadi, sekarang kita mungkin harus melangkah lebih jauh, atau mungkin tidak. Mungkin kita akan membuat kesepakatan. Anda akan mengetahuinya dalam 10 hari ke depan. Terbukti selama bertahun-tahun tidak mudah untuk membuat kesepakatan yang berarti dengan Iran. Kita harus membuat kesepakatan yang berarti. Jika tidak, hal-hal buruk akan terjadi," kata Trump dikutip dari CNBC, Jumat (20/2/2026).

Pernyataan itu langsung mempengaruhi harga minyak dunia karena kekhawatiran serangan AS terhadap Iran akan segera terjadi. Harga minyak mentah AS naik US$ 1,24 atau 1,9% menjadi US$ 66,43 per barel, kemudian jenis Brent naik US$ 1,31 atau 1,86% menjadi US$ 71,66.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagaimana diketahui, utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner mengadakan pembicaraan dengan Iran mengenai program nuklirnya di Jenewa minggu ini. Wakil Presiden AS, JD Vance mengatakan bahwa Iran tidak menanggapi batasan-batasan yang ditetapkan Trump selama pembicaraan tersebut.

ADVERTISEMENT

Peningkatan militer besar-besaran AS sedang berlangsung di Timur Tengah, di mana kapal induk USS Abraham Lincoln saat ini berada di wilayah tersebut. Kapal induk kedua, USS Gerald Ford sedang dalam perjalanan.

Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan beberapa kemajuan telah dicapai selama pembicaraan di Jenewa. Hanya saja terdapat beberapa isu yang masih berbeda pendapat antara Iran dan AS.

"Banyak alasan dan argumen yang dapat diajukan untuk serangan terhadap Iran," tuturnya.

Garda Revolusi Iran mengadakan latihan militer di Selat Hormuz minggu ini, yang menjadi titik penting bagi perdagangan minyak global. Para pedagang minyak khawatir bahwa perang antara AS dan Iran dapat mengganggu aliran minyak mentah melalui selat tersebut.

(aid/fdl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads