Siap-siap Harga Minyak Naik Tajam Imbas AS & Israel Serang Iran

Siap-siap Harga Minyak Naik Tajam Imbas AS & Israel Serang Iran

Andi Hidayat - detikFinance
Minggu, 01 Mar 2026 04:00 WIB
Harga minyak melonjak dekati US$ 80/barel imbas serangan AS ke situs nuklir Iran. Ketegangan di Timur Tengah picu kekhawatiran pasokan global.
Harga minyak dunia diprediksi naik tajam imbas seragan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Foto: REUTERS/Dado Ruvic
Jakarta -

Gejolak harga minyak bakal terjadi setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer ke Iran, Sabtu (28/2/2026).

Serangan ini dinilai memicu dampak yang jauh lebih besar terhadap harga minyak, dibandingkan dengan serangan AS ke Venezuela dan menangkap mantan Presiden Nicolas Maduro

"Ini jelas memiliki dampak yang lebih besar daripada Venezuela," kata Florian Weidinger, CIO di Santa Lucia Asset Management dikutip dari CNBC, Minggu (1/3/2026)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Anda dapat memperkirakan harga minyak akan naik lebih tajam minggu depan sebagai akibatnya," sambung Weidinger.

ADVERTISEMENT

Kenaikan harga minyak bisa terjadi jika Iran menutup Selat Hormuz. Terletak di teluk antara Oman dan Iran, selat tersebut diakui sebagai salah satu titik penting jalur minyak dunia.

Sekitar 13 juta barel minyak mentah per hari melewati Selat Hormuz pada 2025, yang menyumbang sekitar 31% dari aliran minyak global melalui laut, menurut data dari perusahaan intelijen pasar, Kpler.

"Venezuela adalah kisah produksi. [Iran] adalah kisah tentang titik hambatan," ujar Kenneth Goh, Private Wealth Management Director di UOB Kay Hian di Singapura, dikutip dari CNBC

Pada Juni 2025, ketika Israel menyerang situs nuklir Iran, saham-saham anjlok tajam pada pembukaan pasar, kemudian pulih setelah jelas bahwa Selat Hormuz tidak terganggu.

"Itulah pola yang akan dirujuk pasar pada hari Senin," kata Goh,

Koh juga memperkirakan akan terjadi perpindahan aset ke aset aman dengan penguatan dolar AS, yen Jepang, dan lonjakan permintaan emas.

Alicia GarcΓ­a-Herrero, kepala ekonom untuk Asia-Pasifik di Natixis, memprediksi pembukaan pasar modal pada Senin (2/3) nanti akan diwarnai dengan ekuitas global berpotensi turun 1% hingga 2% atau lebih, imbal hasil obligasi pemerintah AS turun 5 hingga 10 basis poin, dan harga minyak melonjak 5% hingga 10%.

"jangan bertaruh pada hal yang berisiko," kata Garcia, dikutip dari CNBC, sambil mengingatkan investor harus menunggu respons Iran.

(hns/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads