Perang Amerika Serikat (AS) & Israel melawan Iran mendorong kenaikan harga minyak dunia. Tercatat harga minyak mentah Brent melonjak ke level US$ 78 per barel.
Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Septian Hario Seto mengatakan jika konflik ini terus berlangsung maka berdampak bagi Indonesia. Apalagi Indonesia saat ini importir minyak.
"Harga minyak kan sudah naik US$ 78, jadi dari US$ 60 ke US$ 78. Jadi sudah cukup lemah. Jadi kalau ini bisa selesai cepat, mungkin naiknya nggak akan tinggi lagi. Tapi kalau ini berlarut-larut, ya itu yang dikhawatirkan. Itu yang mungkin akan membuat kondisinya bisa lebih uncertain dan volatilitas harga di energinya bisa akan lebih tinggi," ujar Seto saat ditemui di Kantor APINDO, Senin (2/3/2025).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika ditanya soal langkah DEN terhadap situasi ini, Seto mengatakan pemerintah saat ini masih melihat kondisi perkembangan yang ada.
Namun, menurut Seto, pemerintah sejak awal telah berupaya mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak, salah satunya melalui program biodiesel.
"Tapi kalau kita lihat strateginya Bapak Presiden, dari awal kita sudah coba mengurangi dependensi terhadap impor. Tadi salah satunya biodiesel, kebijakan dan segala macam. Saya kira itu sudah satu langkah mitigasi," terang Seto.
Ia juga menyinggung potensi dampak terhadap pasokan LNG, mengingat terdapat beberapa terminal LNG di kawasan dekat wilayah konflik. Namun dampaknya terhadap Indonesia masih perlu dicermati lebih lanjut.
"Kalau LNG mungkin kalau ke Indonesia nggak terlalu kali ya. Tapi itu kan ada tiga kalau nggak salah LNG terminal yang dekat di situ. Jadi mungkin kita harus lihat seberapa besar pengaruhnya terhadap pasokannya," tutur Seto.
Simak Video 'Inggris Izinkan AS Pakai Pangkalannya untuk Pertahanan Khusus':
(hrp/hns)










































