Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia melakukan impor Bahan Bakar Mineral dari Iran sebesar US$ 0,45 juta sepanjang 2025. Impor itu dilakukan sebelum Iran diserang Amerika Serikat (AS) dan Israel.
"Impor Bahan Bakar Mineral (HS 27) dari Iran pada tahun 2025 sebesar US$ 0,45 juta," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono dalam konferensi pers, Senin (2/3/2026).
Selain dengan Iran, Indonesia juga tercatat melakukan pembelian atau impor minyak dan gas (migas) dari negara Timur Tengah. Pada Januari 2026, impor terbesar berasal dari Arab Saudi dengan nilai US$ 267,4 juta atau berkontribusi 8,44% terhadap impor migas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Impor migas dari Arab Saudi sebesar US$ 267,4 juta atau kontribusinya 8,44%" tutur Ateng.
Kemudian impor migas dari Uni Emirat Arab senilai US$ 200,6 juta atau berkontribusi 6,34% terhadap total impor migas Indonesia. Lalu dari Qatar, impornya senilai US$ 1,8 juta.
"(Dari) Mesir US$ 73,4 juta atau kontribusinya 2,32%. Sedangkan dari Oman US$ 7,9 juta, kontribusinya 2,14%," tambah Ateng.
Ateng tidak bisa memastikan apakah konflik Timur Tengah akan mempengaruhi kegiatan impor yang sudah berlangsung. Menurutnya, diperlukan kajian lebih lanjut untuk bisa menilai hal tersebut.
"Untuk melihat potensi dampak jika konflik meningkat, ini diperlukan kajian lebih lanjut lagi," tutur Ateng.
(aid/fdl)










































