Harga minyak meroket setelah serangan Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap Iran. Harga minyak dunia mendekati US$ 80 per barel.
Mengutip CNBC, Senin (2/3/2026), minyak mentah Brent naik 7,6% ke level US$ 78,41 per barel pada pukul 06.00 waktu setempat sekaligus menjadi level tertinggi dalam 52 minggu terakhir. Sementara itu, US West Texas Intermediate (WTI) menguat 7,4% ke posisi US$ 72,01 per barel.
Kenaikan harga minyak turut mengerek saham perusahaan energi global. Saham Exxon Mobil naik 4,1% dalam perdagangan pra-pasar, sedangkan Chevron menguat 3,9%. Di Eropa, TotalEnergies naik 3,6%, disusul Shell dan BP yang masing-masing menguat sekitar 2%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Presiden AS Donald Trump mengatakan serangan militer besar-besaran yang ia sebut Operasi Epic Fury akan berlanjut hingga tujuan AS tercapai.
Israel melancarkan serangan baru terhadap Iran dan target Hizbullah di Lebanon pada Minggu malam, yang terjadi setelah Iran menyerang target militer dan infrastruktur di beberapa negara di kawasan tersebut.
Seiring dengan terus berlanjutnya penargetan sistem pertahanan udara dan kemampuan angkatan laut Iran oleh AS, pasokan minyak global menjadi sorotan tajam.
Amrita Sen, pendiri dan direktur riset di Energy Aspects mengatakan kepada CNBC pada hari Senin bahwa ia memperkirakan harga minyak kemungkinan akan bertahan di sekitar level US$ 80 untuk beberapa waktu.
Sen mengatakan kecil kemungkinan Selat Hormuz yang dilalui oleh 13-15 juta barel, atau 20% dari pasokan minyak global akan ditutup sepenuhnya.
Menurutnya risiko yang lebih besar berasal dari serangan sporadis terhadap kapal-kapal yang melewati daerah tersebut. Sen menambahkan, jika infrastruktur energi terdampak, harga minyak bisa mencapai US$ 100.
"Itulah masalah terbesar saat ini bagaimana para pengolah minyak di Asia benar-benar mendapatkan volume minyak dari Timur Tengah?" terang Sen.
(hrp/hns)










































