RI Mau Bangun Storage Minyak Mentah untuk 3 Bulan, Investor Sudah Ada

RI Mau Bangun Storage Minyak Mentah untuk 3 Bulan, Investor Sudah Ada

Heri Purnomo - detikFinance
Kamis, 05 Mar 2026 03:30 WIB
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.Foto: Heri Purnomo/detikcom
Jakarta -

Indonesia bakal membangun tempat penyimpanan (storage) minyak mentah sebagai langkah memperkuat ketahanan energi nasional. Nantinya tempat penyimpanan ini bisa menampung cadangan minyak hingga tiga bulan sesuai dengan standar internasional.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebutkan pembangunan ini wajib dilakukan. Pasalnya saat ini tempat penyimpanan minyak mentah Indonesia hanya mampu menyimpan minyak mentah untuk kebutuhan 23 hari.

Menurut Bahlil rencana pembangunan storage telah dilaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto. Dia juga menyebut sudah ada investor yang bakal masuk dalam pembangunan tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ya investasinya sudah ada, investornya sudah ada," ujar Bahlil di Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu malam (4/3/2026).

Ketika ditanya lebih jauh soal siapa investornya, Bahlil bilang investasinya disebut berasal dari skema campuran (blending) antara dalam negeri dan luar negeri, namun bukan dari Amerika Serikat (AS).

ADVERTISEMENT

"Enggak, investasinya bisa di blending antara dalam negeri dan dari luar, tapi bukan dari AS," katanya.

Soal lokasi pembangunannya, Bahlil tidak menyebutkan lokasi pasti. Namun pada hari sebelumnya, Bahlil bilang akan dibangun di Sumatera. Saat ini pihak Kementerian ESDM sedang menyusun feasibility study (FS) sebelum masuk dalam tahap konstruksi.

Ditargetkan pembangunan tersebut dalam dilakukan tahun ini.

"Ditargetkan di tahun ini pembangunannya sudah mulai dilakukan. Jangan tanya saya bulan apa ya, lokasinya di daerah Sumatera. Sumatera nya pun jangan tanya saya di kabupaten apa," kata Bahlil.

Bahlil menambahkan proyek storage ini tidak sama dengan proyek kilang 1 juta barel yang sebelumnya sudah dibicarakan.

"Storage dulu, yang lain-lainnya kita bicarakan. Kalau minyak jadi, selama ada crude nya, sekarang kan pabriknya kita lagi dorong," kata Bahlil.

(hrp/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads