Direktur Investasi PT Danantara Investment Management Fadli Rahman buka-bukan soal alasan Danantara memilih perusahaan asal China yakni Wangneng Environment Co., Ltd. dan Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd sebagai mitra proyek fasilitas Waste-to-Energy (WtE).
Proyek pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) ini berlangsung di Bekasi dan Denpasar.
Fadli menjelaskan pemilihan mitra dilakukan melalui proses seleksi dan evaluasi yang panjang dan menyeluruh, mulai dari aspek teknis, finansial hingga penilaian risiko proyek.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Proses tersebut melibatkan 60 orang ahli dari dalam maupun luar negeri yang memiliki pengalaman dalam teknologi waste-to-energy.
Wangneng Environment Co. Ltd. dipilih sebagai operator pembangkit di Bekasi karena telah mengoperasikan lebih dari 30 fasilitas pembangkit listrik dari sampah di China.
"Saat ini yang terpilih kebetulan memang perusahaan Cina, Weimin dan Wang Neng. Dan mereka termasuk yang terbaik juga di sana, mereka sudah membangun," ujar Fadli Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (6/3/2026).
"Wangneng, mereka juga merupakan salah satu perusahaan terbaik dalam waste energy di sana (China). Seingat saya mereka punya 30-an lebih lokasi power plant waste energy di China," sambungnya.
Kemudian, Zhejiang Weiming terpilih karena telah membangun lebih dari 50 pembangkit listrik berbasis waste-to-energy dengan nilai kapitalisasi pasar sekitar US$ 7 miliar.
"Weiming itu seingat saya itu lebih dari 50 power plant. Tapi mereka merupakan perusahaan yang besar, yang punya market cap yang besar juga, sekitar US$ 7 miliar," jelasnya.
Sebelumnya, Chief Investment Officer Danantara Pandu Sjahrir, mengatakan penetapan mitra ini merupakan bagian dari program WtE/PSEL Danantara Indonesia yang bertujuan untuk mengatasi permasalahan sampah dengan memperkuat pengelolaan sampah perkotaan, mengurangi ketergantungan pada pembuangan ke TPA, serta mendukung pembangkit energi yang berkelanjutan.
"Pengumuman hari ini menandai langkah penting dalam memastikan fasilitas Waste-toEnergy dikelola dengan standar tertinggi dalam keandalan operasional, keselamatan, dan akuntabilitas," ujar Pandu dalam keterangan tertulis, Jumat (6/3/2026).
Sejalan dengan dual mandate Danantara Indonesia, mitra operator diwajibkan membentuk konsorsium guna mendorong transfer teknologi, termasuk dengan badan usaha milik pemerintah daerah dan perusahaan lokal Indonesia.
Danantara Indonesia juga menekankan tata kelola yang kuat sejak tahap awal, termasuk proses seleksi yang transparan dan berbasis mitigasi risiko.
(hrp/hns)









































