Ketegangan di Timur Tengah membuat harga minyak mentah dunia bergejolak. Dalam sepekan, harga minyak melonjak hingga 35% seiring memanasnya perang antara Iran dan Israel yang melibatkan Amerika Serikat (AS).
Situasi ini memaksa Kuwait, salah satu produsen minyak terbesar untuk mengambil langkah darurat. Pemerintah Kuwait mengumumkan pemangkasan produksi minyak mentah dan hasil penyulingan. Langkah ini menyusul kapal-kapal tanker tidak berani melintasi Teluk Persia akibat ancaman serangan Iran.
Kendati begitu, negara tersebut tidak merinci berapa jumlah barel per hari yang dipangkas. Pengurangan produksi ini juga sebagai langkah antisipasi yang akan kembali seiring perkembangan situasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kuwait merupakan produsen minyak terbesar kelima di OPEC. Produksinya mencapai 2,6 juta barel per hari pada Januari lalu.
Perusahaan milik negara, Kuwait Petroleum Corporation, menyatakan bahwa tetap bersiap sepenuhnya untuk memulihkan tingkat produksi setelah situasi memungkinkan.
Harga minyak melonjak sekitar 35% pada pekan ini. Kapal-kapal tanker berhenti melewati Selat Hormuz karena pemilik kapal khawatir kapalnya akan diserang oleh Iran.
Produsen minyak Arab Teluk, seperti Kuwait mengekspor minyak melalui selat tersebut. Jalur tersebut merupakan satu-satunya jalan untuk masuk atau keluar dari Teluk Persia. Sekitar 20% dari konsumsi minyak global diekspor melalui Selat Hormuz.
Akibatnya, stok minyak mentah menumpuk di Timur Tengah. Karena kapal tanker tidak bergerak, ruang penyimpanan di negara-negara Teluk mulai penuh sesak. Alhasil, negara-negara Arab Teluk terpaksa menurunkan produksi ketika mereka kehabisan ruang untuk menyimpan.
Irak bahkan sudah lebih dulu memangkas produksi hingga 1,5 juta barel per hari karena kehabisan gudang penyimpanan. Kuwait, yang biasanya memproduksi 2,6 juta barel per hari, diprediksi akan menyusul melakukan pemangkasan besar-besaran.
Pasar kini tidak lagi sekadar mengkhawatirkan risiko politik, melainkan sudah menghadapi gangguan operasional yang nyata. JPMorgan memprediksi jika perang AS-Iran ini berlanjut hingga lebih dari tiga minggu, kapasitas penyimpanan negara-negara Arab akan ludes dan produksi minyak terpaksa ditutup total.
"Hal ini bisa memicu lonjakan harga minyak mentah Brent hingga melampaui US$ 100 per barel," ujar Kepala Riset Komoditas Global JPMorgan Natasha Kaneva dikutip dari CNBC International, Minggu (8/3/2026).
Pada perdagangan hari Jumat (6/3), minyak mentah mencatat kenaikan secara mingguan terbesar dalam sejarah perdagangan berjangka. Brent melonjak 8,52%, atau US$7,28, hingga mencapai di level US$ 92,69 per barel. Sementara itu, kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) melonjak 12,21% atau US$ 9,89 dan ditutup pada level US$90,90 per barel.
Minyak mentah AS meroket 35,63%, kenaikan mingguan terbesar dalam sejarah kontrak berjangka sejak tahun 1983. Brent melonjak 28% secara mingguan dan menjadi peningkatan tertinggi sejak April 2020.
Krisis ini merembet ke sektor gas alam cair (LNG). Qatar, pemasok 20% LNG dunia, dilaporkan telah menghentikan operasional produksinya sejak Senin lalu akibat serangan Iran.
(acd/acd)










































