Tetangga Indonesia, Filipina dan Myanmar, mengendalikan konsumsi BBM dengan pangkas jam kerja dan WFH lantaran impor minyak terancam tersendat hingga memicu lonjakan harga. Kondisi ini dipicu perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel lawan Iran.
Apalagi, Selat Hormuz yang menjadi jalur utama pengiriman impor minyak dari timur tengah, ditutup Iran.
Meski begitu, Indonesia yang juga negara importir belum berencana mengambil opsi seperti negara tetangga. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia pemerintah masih mengkaji berbagai langkah efisiensi energi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita lagi melakukan exercise, apa yang dilakukan oleh negara lain itu kan tergantung dari kondisi masing-masing negara. Kita juga akan melihat seberapa penting dan langkah apa yang harus kita lakukan dalam rangka melakukan efisiensi," ujar Bahlil di Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (9/3/2026).
"Efisiensi itu adalah penyelamatan terhadap keuangan negara dan juga adalah optimalisasi terhadap seluruh energi yang kita punya," sambungnya.
Bahlil menjelaskan langkah yang diambil untuk antisipasi lonjakan harga BBM, salah satunya mempercepat program biodiesel hingga campuran 50% atau B50.
"Kemudian kita akan mempercepat penerapan E20, etanol. Karena kalau harga minyaknya fosil bisa melampaui 100 USD per barrel, maka itu lebih murah. Kita akan blending untuk diesel itu antara B0 dengan B40 sekarang menjadi B50," katanya.
Ketika ditanya apakah bakal ada pengendalian energi yang bakal dilakukan pemerintah dalam waktu dekat, Bahlil mengatakan pemerintah fokus kebutuhan energi periode Ramadan dan Lebaran bisa tercukupi.
"Kita pikir hari raya aja dulu ya. Hari raya aman, itu dulu yang paling penting," kata Bahlil.
(hrp/hns)










































