Tekan Impor, Prabowo Genjot BBM dari Sawit, Jagung, Singkong, dan Tebu

Tekan Impor, Prabowo Genjot BBM dari Sawit, Jagung, Singkong, dan Tebu

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Selasa, 10 Mar 2026 03:00 WIB
Presiden Prabowo Subianto di Pengukuhan Pengurus MUI di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat.
Presiden Prabowo Subianto.Foto: dok. Youtube Sekretariat Presiden
Jakarta -

Presiden Prabowo Subianto buka suara soal swasembada energi di tengah ancaman pasokan bahan bakar minyak (BBM) terganggu imbas perang timur tengah.

Menurut Prabowo, pemerintah sedang mengembangkan BBM dari sumber nabati, mulai dari kelapa sawit, singkong, jagung, dan tebu.

"Masalah BBM, bertahun-tahun saya perjuangkan swasembada energi. Kita memiliki karunia besar dari Yang Maha Kuasa bahwa kita nanti mampu kebutuhan BBM kita bukan dari impor luar negeri. Bahkan dari tanaman-tanaman kita, dari kelapa sawit, dari singkong, dari jagung, dari tebu," ujar Prabowo dalam pidatonya secara virtual, Senin (9/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu pengembangan BBM yang dilakukan adalah biodiesel dengan sumber kelapa sawit. Indonesia sudah berhasil menggunakan solar dengan campuran 40% minyak nabati dari kelapa sawit atau Bv40.

Rencananya, tahun ini Indonesia akan naik ke level berikutnya yaitu campuran minyak nabati 50% atau B50. Selain itu ada juga pengembangan bioetanol, yaitu campuran bensin dengan etanol yang dihasilkan dari tebu.

ADVERTISEMENT

Sejauh ini sudah ada produk bensin Pertamax Green 95 yang dikeluarkan Pertamina dengan campuran 5-7% etanol. Rencananya, dalam beberapa tahun lagi campuran etanol akan ditambah jadi 10%.

Indonesia juga bergerak mengembangkan SAF atau sustainable aviation fuel (SAF), ini merupakan proyek pengganti avtur. Bahan bakar pesawat ini diolah dari minyak jelantah (Used Cooking Oil). SAF belum digunakan secara luas, namun uji coba penerbangan sudah dilakukan.

Potensi-potensi energi hijau ini diungkapkan Prabowo di tengah ancaman dampak kenaikan harga minyak dunia imbas perang yang pecah di Timur Tengah. Sudah sekitar sepekan lamanya Iran saling serang dengan Amerika Serikat (AS) yang bersekutu dengan Israel.

Bukan hanya berperang, Iran juga mengambil langkah ekstrim dengan menutup Selat Hormuz, jalur logistik minyak dan gas penting di kawasan Timur Tengah. Sekitar 20% pengiriman minyak dan gas melalui jalur yang berada di bawah kekuasaan Iran tersebut.

Dua faktor ini membuat harga minyak dunia jadi mendidih. Terakhir harga minyak sudah menembus US$ 110 per barel, kenaikan itu cukup tinggi. Pemerintah Indonesia saja dalam APBN 2026 menyusun asumsi harga minyak hanya berada di US$ 70 per barel.

(hns/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads