Menteri Energi G7 Mau Merapat Usai Harga Minyak Tembus US$ 100 per Barel

Menteri Energi G7 Mau Merapat Usai Harga Minyak Tembus US$ 100 per Barel

Ilyas Fadilah - detikFinance
Selasa, 10 Mar 2026 09:16 WIB
Ilustrasi sektor migas
Foto: Ilustrasi Migas (Fauzan Kamil/Infografis detikcom)
Jakarta -

Para menteri energi dari negara-negara Kelompok Tujuh (G7) dijadwalkan menggelar pertemuan virtual pada Selasa pagi untuk membahas kemungkinan pelepasan cadangan minyak. Hal tersebut dilakukan guna mengatasi gangguan pasokan yang dipicu perang Iran.

Sebelumnya, para menteri keuangan G7 telah bertemu pada Senin namun belum mengambil keputusan. Anggota G7 terdiri dari Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat (AS).

Jika ada langkah terkoordinasi untuk melepas cadangan minyak, keputusan itu kemungkinan diambil setelah pertemuan para menteri energi. AS menilai pelepasan 300 juta hingga 400 juta barel merupakan langkah yang tepat. Jumlah itu setara dengan sekitar 25%-30% dari total cadangan 1,2 miliar barel yang dimiliki negara-negara tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami siap mengambil langkah yang diperlukan, termasuk mendukung pasokan energi global seperti melalui pelepasan stok cadangan," kata para menteri keuangan G7 dalam pernyataan bersama, dikutip dari CNBC, Selasa (10/3/2026).

ADVERTISEMENT

Harga minyak sempat melonjak di atas US$ 100 per barel seiring dengan masih ditutupnya Selat Gormuz. Hingga kini belum jelas kapan selat tersebut dapat kembali dibuka untuk lalu lintas kapal.

Meski demikian, harga minyak sedikit terkoreksi pada Senin karena pasar mulai memperkirakan adanya pelepasan cadangan minyak. Minyak mentah AS terakhir diperdagangkan di kisaran US$ 95 per barel, sementara patokan global Brent berada sedikit di bawah US$ 100 per barel.

Penutupan Selat Hormuz memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah. Sekitar 20% konsumsi minyak dunia biasanya dikirim melalui jalur laut sempit tersebut.

Berbeda dengan krisis energi sebelumnya, saat ini tidak ada kapasitas produksi cadangan yang bisa segera menutup kekurangan pasokan. Hal itu karena Arab Saudi dan Uni Emirat Arab praktis terputus dari pasar minyak global akibat penutupan Selat Hormuz.

Cadangan minyak strategis Amerika Serikat juga dinilai tidak cukup untuk menutup seluruh pasokan yang tertahan di Teluk Persia. Saat ini Strategic Petroleum Reserve (SPR) AS menyimpan sekitar 415 juta barel, atau sekitar 58% dari kapasitas maksimalnya yang mencapai 714 juta barel, menurut Departemen Energi AS.

Para analis Rapidan menilai negara-negara anggota International Energy Agency (IEA) kemungkinan akan mendapat tekanan besar untuk melepas cadangan minyak strategis mereka, karena langkah tersebut kini menjadi satu-satunya opsi respons pasokan yang tersisa.

Tonton juga video "Harga Minyak Meroket, Bahlil Pastikan Belum Ada Kenaikan BBM Subsidi"

(acd/acd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads