Purbaya Semprot Analis di TikTok & YouTube: Nggak Pernah Lihat Data!

Purbaya Semprot Analis di TikTok & YouTube: Nggak Pernah Lihat Data!

Herdi Alif Al Hikam, Ilyas Fadilah - detikFinance
Sabtu, 14 Mar 2026 13:27 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjawab pertanyaan wartawan saat media briefing di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (31/12/2025). Menteri Keuangan menyatakan optimis ekonomi nasional bisa tumbuh enam persen yang didukung dari Bank In
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.Foto: ANTARA FOTO/Bayu Pratama S
Jakarta -

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengkritik para analis yang suka menyampaikan pandangan mereka terhadap kebijakan pemerintah, lewat TikTok dan YouTube.

Menurut Purbaya mereka keras menilai ekonomi Indonesia akan hancur. Purbaya menganggap analis seperti ini tidak melihat data secara menyeluruh.

Dalam pemaparannya kepada Presiden Prabowo Subianto, Purbaya menjelaskan kekhawatiran terhadap lonjakan harga minyak dunia sebenarnya sudah beberapa kali muncul.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun berdasarkan pengalaman, perekonomian Indonesia tidak selalu terpuruk ketika harga minyak naik tajam.

ADVERTISEMENT

"Jadi kita nggak usah takut Pak. Jadi analis-analis yang di TikTok, di YouTube yang bilang kita hancur, itu sama sekali nggak pernah melihat data," ujar Purbaya dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jumat (13/3/2026).

Purbaya menunjukkan data yang membandingkan pergerakan harga minyak Brent dengan kondisi ekonomi Indonesia. Purbaya mencontohkan periode 2007-2008 ketika harga minyak Brent melonjak sangat tinggi hingga lebih dari US$ 220 per barel.

"Tapi dengan kebijakan yang pas, fiskal dan moneter pada waktu itu, kita masih bisa tumbuh 4,6%. Jadi kita cukup cermat bisa mengendalikan hal itu," tambah Purbaya.

Ia juga menyoroti periode kenaikan harga minyak berikutnya pada 2011 ketika harga Brent berada di kisaran US$ 110 hingga US$ 120 per barel. Menurutnya, pada periode tersebut indikator kondisi ekonomi domestik juga masih menunjukkan tren positif.

Pengalaman serupa, kata Purbaya, juga terjadi pada masa pandemi COVID-19. Ketika harga minyak kembali naik ke atas US$ 100 per barel setelahnya, kondisi ekonomi domestik tetap bertahan dan menunjukkan tren perbaikan.

Karena itu, Purbaya menilai tidak perlu terlalu khawatir menghadapi fluktuasi harga minyak dunia selama kebijakan ekonomi dijalankan secara tepat.

"Artinya kalau kita punya kebijakan yang pas, moneter maupun fiskal dan kebijakan bapak nantinya, walaupun global ekonomi harga minyak gonjang-ganjing, kita punya cara atau pengalaman untuk mengendalikan dampaknya ke perekonomian. Jadi kita nggak perlu takut Pak," tutur Purbaya.

(hns/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads