Bahlil Beri Sinyal RI Impor Minyak dari Brunei

Bahlil Beri Sinyal RI Impor Minyak dari Brunei

Heri Purnomo - detikFinance
Minggu, 15 Mar 2026 17:58 WIB
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia
Foto: Dok. BPMI Sekretariat Presiden/Kris
Jakarta -

Indonesia membuka peluang untuk impor minyak bumi dari Brunei Darussalam sebagai salah satu langkah untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Pasalnya, kapasitas produksi minyak Brunei mencapai sekitar 100.000 hingga 110.000 barel per hari.

Hal ini diungkapkan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat bertemu Deputy Minister (Energy) at the Prime Minister's Office Brunei Darussalam Dato Seri Paduka Awang Haji Mohamad Azmi Bin Haji Mohd Hanifah di sela-sela Indo Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum (IPEM) di Tokyo, Jepang, Minggu (15/3) waktu setempat.

"Penjajakan impor minyak bumi dari Brunei menjadi salah satu opsi strategis yang kita dorong, sekaligus memastikan ketersediaan pasokan energi nasional tetap dalam kondisi aman," jelas Bahlil dalam keterangan tertulis, Minggu (15/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Disisi lain, Brunei yang selama ini dikenal sebagai salah satu produsen migas utama di Asia Tenggara mulai secara serius melirik langkah transformasi energi Indonesia. Delegasi Brunei menyampaikan ketertarikannya untuk mempelajari pengalaman Indonesia dalam mengembangkan diversifikasi pembangkit energi, khususnya yang berasal EBT.

ADVERTISEMENT

Dikatakan Bahlil, ke depannya, Brunei sedang mempersiapkan untuk meningkatkan kapasitas terpasang pembangkit nasionalnya hingga 5 kali lipat dari kapasitas eksisting, atau ingin menambah 4 gigawatt (GW) dari kapasitas terpasang yang sekarang sebesar 1 GW.

"Ini adalah momentum emas bagi kolaborasi kawasan. Brunei melihat Indonesia telah melangkah lebih maju dan terstruktur dalam mengembangkan pembangkit energi dari berbagai macam sumber energi, dimana Brunei memanfaatkan 99% dari gas untuk pembangkit listriknya dan ingin mengurangi porsi pemanfaatan gas untuk pembangkitnya," ungkap Bahlil.

Bahlil menambahkan, Brunei juga tertarik dengan teknologi yang diterapkan oleh perusahaan migas nasional, yaitu PT Pertamina (Persero) yang memanfaatkan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) untuk meningkatkan produksi minyak di sumur-sumur minyak tua.

Oleh karena itu, Bahlil siap memfasilitasi Brunei untuk melakukan kerja sama dengan perusahaan plat merah Indonesia di bidang energi.

"Kami siap melakukan kerja sama untuk sharing pengalaman dan pengetahuan untuk berbicara teknis, nanti akan saya siapkan dengan senang hati untuk berbagi dan belajar," ujarnya.

Sementara itu, Dato Seri Paduka Awang Haji Mohamad Azmi, mengungkapkan ketertarikan negaranya terhadap teknologi EOR tersebut, karena Brunei sejauh ini sudah menggunakan teknologi water flooding dan siap untuk memanfaatkan chemical flooding seperti EOR untuk meningkatkan produksi minyaknya.

"Kita tertarik di Indonesia, sebab ada teknologi EOR yang sudah diterapkan. Kita sudah menggunakan water flooding dan kita percaya kita bisa belajar dari Indonesia untuk mengoperasikan EOR," jelasnya.

Di sisi lain, Indonesia juga mendorong peluang investasi yang lebih luas bagi Brunei melalui kerangka Koridor Ekonomi Indonesia (KEI) atau Indonesian Economic Development Corridor (IEDC). Melalui skema ini, Brunei diajak untuk berpartisipasi dalam pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan, khususnya di wilayah terpencil (remote area) yang memiliki potensi sumber daya alam namun masih membutuhkan dukungan infrastruktur energi.

Kerja sama tersebut juga dirancang mencakup penguatan kapasitas sumber daya manusia melalui program capacity building, mulai dari sektor hulu migas hingga pelatihan auditor energi terbarukan.

(acd/acd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads