Perang di Timur Tengah telah menyebabkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah SPBU di Bangkok, Thailand. Harga solar telah naik 4-5 baht atau Rp 2.000-3.000 (kurs Rp 523) per liter dalam beberapa hari terakhir.
Seorang senator untuk Songkhla dan Juru Bicara Komite Senat tentang Militer dan Keamanan Negara, Chaiyong Maneerungsakul memperingatkan bahwa perang berkepanjangan antara Amerika Serikat (AS) dan Israel yang melawan Iran dapat mengganggu rantai pasok dan menaikkan harga BBM di seluruh negeri.
"Bagi masyarakat tidak akan ada kekurangan minyak, tetapi mungkin akan ada dampak pada harga," kata Chaiyong dikutip dari Bangkok Post, Selasa (17/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kenaikan harga BBM muncul di beberapa bagian Utara dan Selatan karena pengiriman BBM dari depot menurun, sedangkan permintaan meningkat. Di sebuah SPBU di provinsi Mae Hong Son, pemilik Adul Payomdong mengatakan SPBU-nya telah menaikkan harga eceran karena kenaikan biaya grosir.
"Saya berencana untuk menangguhkan penjualan BBM sementara karena kami tidak dapat bersaing dengan harga SPBU besar. Tetapi pelanggan tetap kami mengatakan mereka bersedia untuk terus membeli meskipun harganya disesuaikan, jadi saya memutuskan tetap beroperasi untuk saat ini," ucapnya.
SPBU milik pribadi itu menjual solar seharga 40,50 baht atau Rp 21.181 per liter, gasohol 95 seharga 37,60 baht atau Rp 19.664 dan bensin seharga 46 baht atau Rp 24.058.
Di tengah kenaikan harga BBM, antrean di sejumlah SPBU justru mengular karena masyarakat khawatir akan kekurangan pasokan. Kecemasan berlanjut meskipun Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul telah memberikan jaminan bahwa Kementerian Energi akan terus memantau situasi.
Beberapa SPBU memasang pengumuman bahwa jenis bahan bakar tertentu khususnya E85 dan E91 (Gasohol 91) untuk sementara tidak tersedia. Antrean panjang dilaporkan di seluruh distrik perkotaan, dengan banyak pengendara mengisi BBM sebelum bekerja.
Lebih jauh ke utara di Chiang Rai, pemandangan serupa terjadi. Banyak SPBU kehabisan bahan bakar dan tutup lebih awal karena keterbatasan jenis bahan bakar tertentu, sementara yang lain menutup penjualan sepenuhnya.
Di seberang perbatasan di Tachileik, Myanmar, harga BBM juga melonjak tajam. BBM botol yang sebelumnya dijual seharga 100-200 baht untuk 1,5 liter pada siang hari, naik menjadi 250 baht pada malam hari dengan volume dikurangi menjadi 700 mililiter.
Pemerintah pun membatasi pembelian BBM hanya untuk pengisian langsung ke kendaraan dan melarang pembelian dalam jumlah besar ke dalam drum atau tangki penyimpanan. Jam operasional juga dikurangi dari pukul 6 pagi hingga 10 malam, menjadi tutup lebih awal pukul 6 sore.
"Para operator membutuhkan jalur produksi untuk terus beroperasi. Pasokan yang terbatas dapat menghidupkan kembali perdagangan bahan bakar ilegal," ucap Chaiyong.
Harga BBM selundupan juga diperkirakan akan naik. Sumber dari industri transportasi di wilayah Selatan mengindikasikan bahwa harga solar dan bensin di luar sistem transportasi umum mencapai sekitar 25 baht per liter, naik dari 20-21 baht sebelumnya.
Presiden Jaringan Petani Karet dan Minyak Sawit Thailand, Tossapol Kwanrod mendesak percepatan produksi biodiesel. Meskipun produksi BBM dari kelapa sawit mungkin tidak sepenuhnya memenuhi permintaan, ekspansi dinilai akan memperkuat stabilitas energi jangka panjang.
"Jika perang berkepanjangan dan terjadi kekurangan minyak, kita harus segera memproduksi cadangan biodiesel," imbuhnya.
Lihat juga Video: Harga BBM Naik, Pakistan Liburkan Sekolah-50% Pekerja WFH!











































