RI Gandeng Jepang Garap Mineral Kritis, Apa Untungnya?

RI Gandeng Jepang Garap Mineral Kritis, Apa Untungnya?

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Rabu, 18 Mar 2026 19:30 WIB
SAINT VULBAS, AIN, FRANCE - 2025/06/22: Bugey Nuclear Power Plant in Saint Vulbas. Γ‰lectricitΓ© de France (EDF) is considering possible reductions in electricity production at the nuclear power plant starting Monday, June 23, 2025, due to the heatwa
Foto: SOPA Images/LightRocket via Gett/SOPA Images
Jakarta -

Perjanjian Memorandum of Cooperation (MoC) baru saja diteken oleh pemerintah Indonesia dan Jepang. Perjanjian itu diteken langsung oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat bertemu dengan Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang, Ryosei Akazawa. Kerja sama ini dinilai dapat menjadi langkah strategis Indonesia dalam mendorong transisi energi hijau sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Kolaborasi tersebut rencananya akan mencakup pengembangan energi nuklir, ekspor LNG, hingga Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).

Ekonom Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Hendry Cahyono menilai kesepakatan ini menjadi sinyal positif Indonesia semakin serius dalam mengembangkan energi bersih berbasis teknologi maju.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dari sisi teknis dan ekonomi, Indonesia sebenarnya sudah berencana mengembangkan PLTN sejak era 1960-an. MoU ini menunjukkan ada langkah maju, meskipun jalan menuju realisasinya masih panjang," kata Hendry dalam keterangannya, Rabu (18/3/2026).

ADVERTISEMENT

Menurutbya kerja sama dengan Jepang memberikan peluang besar bagi Indonesia untuk mempercepat penguasaan teknologi energi baru, termasuk nuklir yang selama ini terkendala biaya investasi dan transfer teknologi. Hendry menekankan, potensi keuntungan kerja sama ini juga sangat besar jika dikaitkan dengan kekayaan sumber daya mineral Indonesia yang melimpah, terutama untuk mendukung ekosistem energi bersih.

"Indonesia memiliki sekitar 43 persen cadangan nikel dunia, serta cadangan bauksit, timah, tembaga, dan logam tanah jarang. Ini menjadi modal kuat untuk hilirisasi dan pengembangan industri energi hijau," ujar Hendry.

Dia menambahkan, kerja sama ini tidak hanya soal pasokan energi, tetapi juga berpotensi menciptakan dampak ekonomi berlapis bagi Indonesia. Mulai dari peningkatan efisiensi produksi hingga penciptaan lapangan kerja.

Di sisi lain, Hendry mengingatkan pentingnya memastikan implementasi kerja sama berjalan optimal, terutama dalam aspek alih teknologi agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar. Meskipun Indonesia relatif tertinggal dibandingkan negara maju dalam pengembangan energi nuklir, Hendry menyebut kondisi tersebut justru memberi keuntungan tersendiri.

"Indonesia bisa belajar dari pengalaman negara lain, termasuk dari kasus Fukushima, sehingga bisa langsung mengadopsi teknologi yang lebih aman tanpa mengulang kesalahan masa lalu," pungkas Hendry.

(acd/acd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads