Iran mengancam menyerang fasilitas minyak dan gas di kawasan Teluk. Ancaman itu dikeluarkan sebagai bentuk balas dendam atas serangan Israel ke ladang gas terbesar Iran, Pars Selatan.
Dalam pernyataan yang dirilis kantor berita Iran, Tasnim, otoritas Iran menyebutkan lima fasilitas di Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Qatar akan menjadi sasaran serangan dalam beberapa jam ke depan. Fasilitas yang akan menjadi sasaran, meliputi kilang Samref dan kompleks petrokimia Jubail di Arab Saudi, ladang gas Al Hosn di UEA, serta kilang Ras Laffan dan kompleks petrokimia Mesaieed di Qatar.
Fasilitas gas di Qatar sudah menjadi targetnya, kebakaran hebat dilaporkan terjadi di Kota Industri Ras Laffan setelah serangan Iran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ancaman ini muncul setelah media pemerintah Iran melaporkan serangan terhadap fasilitas gas alam di lepas pantai South Pars. Ladang tersebut menjadi ladang gas terbesar di dunia dan terletak di Provinsi Bushehr, Iran Selatan.
Kementerian Perminyakan Iran menyatakan sejumlah fasilitas mengalami kerusakan, tapi belum ada laporan korban jiwa. Media setempat juga menyebutkan bahwa kebakaran di lokasi tersebut telah berhasil dikendalikan. Sementara itu, media Israel melaporkan bahwa angkatan udara mereka merupakan pihak di balik serangan tersebut.
Sejak perang pecah pada 28 Februari lalu, Israel dan AS telah menggempur berbagai sasaran di Iran, termasuk fasilitas minyak. Sebaliknya, serangan balasan Iran menggunakan rudal dan drone ke negara-negara Timur Tengah, termasuk negara-negara Arab di Teluk, terus berlanjut meski dunia khawatir akan dampaknya terhadap pasar energi global.
Penutupan jalur krusial Selat Hormuz oleh Iran telah menyebabkan harga energi melonjak drastis. Meski Iran mengklaim sasarannya adalah aset militer AS, para pemimpin negara Teluk berulang kali mengecam serangan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional karena menyasar infrastruktur sipil.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al-Ansari, mengecam keras tindakan Israel yang menyerang South Pars, mengingat ladang gas tersebut merupakan sambungan dari Ladang Utara (North Field) milik Qatar. Ia mendesak semua pihak untuk menahan diri dan mematuhi hukum internasional demi stabilitas kawasan.
"Target terhadap infrastruktur energi adalah ancaman bagi keamanan energi global, masyarakat kawasan, dan lingkungan," tulisnya, dikutip dari Al Jazeera, Kamis (19/3/2026).
(rea/fdl)










































