Produksi Minyak China Sentuh Rekor, tapi Tak Bisa Lepas dari Impor

Produksi Minyak China Sentuh Rekor, tapi Tak Bisa Lepas dari Impor

Heri Purnomo - detikFinance
Jumat, 20 Mar 2026 21:30 WIB
Ilustrasi sektor migas
Foto: Ilustrasi Migas (Fauzan Kamil/Infografis detikcom)
Jakarta -

China selaku importir minyak terbesar di dunia berhasil meningkatkan produksinya sendiri. Produksi minyak China mencapai rekor tertinggi pada tahun lalu dengan pengeboran agresif di ladang-ladang yang sudah tua, booming lepas pantai dan produksi minyak serpih (share oil) yang baru muncul.

Dilansir dari Reuters, Jumat (20/3/2026), para ahli memperkirakan produksi minyak China akan stabil selama satu dekade, sedikit di bawah rekor tahun lalu sebesar 4,32 juta barel per hari (bpd).

"Tingkat yang dilihat dalam industri sebagai penstabil keamanan nasional untuk kebutuhan manufaktur dan militer dasar," katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rencana Beijing pada 2026-2030, yang dirilis pada 5 Maret 2026 mengkonfirmasi pandangan tersebut. Mereka menargetkan agar produksi dipertahankan pada 4 juta bpd.

Ketiga perusahaan minyak nasional berusaha mempertahankan level tersebut selama mungkin, yang dianggap sebagai jumlah minimum untuk mengatasi gangguan pasokan yang tidak terduga," kata Zhu Weilin, seorang profesor di Universitas Tongji Shanghai.

ADVERTISEMENT

Di sisi lain, ada analis berpandangan bahwa China telah mencapai batas kemampuan ekonomisnya. Pasalnya pertumbuhan lepas pantai mulai melambat dan sumber daya non-konvensional yang berbiaya lebih tinggi semakin sulit dieksploitasi.

Itu berarti China akan tetap sangat bergantung pada impor minyak. Tahun lalu impor mencapai 11,55 juta barel per hari, bahkan ketika elektrifikasi transportasi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Menyoroti kebutuhan akan produksi dalam negeri, meningkatnya perang di Timur Tengah telah mengurangi ekspor minyak mentah dari wilayah yang memasok setengah dari impor China.

(kil/kil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads