Bos Energi Qatar Ngaku Sudah Ingatkan AS Bahaya Memprovokasi Iran

Bos Energi Qatar Ngaku Sudah Ingatkan AS Bahaya Memprovokasi Iran

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Minggu, 22 Mar 2026 11:30 WIB
Ilustrasi Konflik Iran dan Amerika Serikat
Foto: EduRaw/Pexels
Jakarta -

CEO QatarEnergy, Saad al-Kaabi, mengatakan dirinya sejak lama sudah memperingatkan risiko besar jika konflik dengan Iran makin memanas, terutama jika fasilitas energi Iran menjadi target serangan. Hal ini diungkapkannya dalam wawancara eksklusif kepada Reuters, dikutip Minggu (22/3/2026).

"Saya selalu memperingatkan, berbicara kepada para eksekutif dari sektor minyak dan gas yang bermitra dengan kami, berbicara kepada Menteri Energi AS, untuk memperingatkan beliau tentang konsekuensi tersebut dan bahwa hal itu dapat merugikan kami,"katanya.

Pernyataan ini muncul setelah serangan rudal Iran menghantam kompleks LNG Ras Laffan di Qatar, yang merupakan fasilitas gas alam cair terbesar di dunia. Serangan itu merusak infrastruktur penting dan mengganggu pasokan energi global.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Akibat serangan tersebut, sekitar 17% kapasitas ekspor LNG Qatar hilang. Pemulihan diperkirakan bisa memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, sehingga rencana ekspansi produksi gas negara itu juga ikut tertunda.

Gangguan ini berpotensi berdampak luas karena Qatar merupakan salah satu pemasok utama gas untuk Eropa dan Asia. Jika pasokan terganggu lama, harga energi global bisa semakin naik.

ADVERTISEMENT

Saad al-Kaabi, mengatakan pihaknya sudah mengantisipasi kemungkinan serangan dengan mengevakuasi sekitar 10.000 pekerja lepas pantai dalam waktu 24 jam, sehingga tidak ada korban jiwa saat serangan terjadi.

Dia juga menyebut telah berulang kali memperingatkan pejabat AS dan mitra industri migas internasional tentang risiko efek domino jika fasilitas energi Iran diserang terlebih dahulu.

Serangan terhadap fasilitas energi ini tidak hanya berdampak ke sektor gas, tetapi juga memicu perlambatan aktivitas ekonomi di kawasan Teluk, termasuk pariwisata, perdagangan, dan pendapatan pemerintah.

Selain itu, konflik yang menargetkan infrastruktur energi dinilai dapat memicu krisis energi global yang lebih luas, karena rantai pasok gas dan minyak dunia sangat bergantung pada stabilitas kawasan tersebut.

Menurut al-Kaabi, produksi gas tidak bisa langsung pulih. Qatar perlu penghentian konflik terlebih dahulu sebelum bisa mulai memulihkan fasilitas dan kembali menormalkan ekspor energi.

(eds/eds)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads