SBY Ikut Pantau Gejolak Harga Minyak Dunia, Sebut RI Tak Perlu Panik

SBY Ikut Pantau Gejolak Harga Minyak Dunia, Sebut RI Tak Perlu Panik

Retno Ayuningrum - detikFinance
Rabu, 25 Mar 2026 16:56 WIB
SBY memberikan kuliah umum di Lemhanas, Jakarta, Senin (23/2/2026). Dalam kesempatan itu, SBY menyinggung AS yang mau jadi negara unipolar atau satu-satunya penguasa dunia.
Foto: Andhika Prasetia/detikFoto
Jakarta -

Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ikut angkat bicara mengenai gejolak pasar energi global yang dipicu oleh konflik di kawasan Timur Tengah. Melalui akun X resmi-nya, SBY mengaku ikut memantau gejolak pasar global, khususnya harga minyak, gas, hingga BBM.

"Dari Singapura saya ikut mengamati gejolak pasar global, utamanya harga minyak, gas dan BBM. Meskipun harga energi masih sangat fluktuatif, tetapi dampak buruknya sudah dirasakan oleh semua negara. Termasuk Indonesia," tulis SBY di akun X-nya @SBYudhoyono, Rabu (25/3/2026)

SBY mencermati bahwa banyak negara, termasuk di Asia seperti Filipina dan Korea Selatan, telah melakukan langkah nyata untuk menyelamatkan ekonomi mereka. Menurutnya, Indonesia tak perlu panik menanggapi situasi saat ini. Namun, ia menilai Indonesia pun harus bersiap karena dampak buruk energi global sudah mulai dirasakan semua negara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Untuk Indonesia, kita tak perlu panik. Meskipun, langkah-langkah kita tidak boleh terlambat dan tidak tepat," terang SBY.

SBY membagikan pengalamannya saat memimpin Indonesia menghadapi krisis serupa pada 2004-2005, 2008, dan 2013. Kala itu, meroketnya harga minyak dunia memberikan tekanan luar biasa pada fiskal, defisit APBN, hingga memicu inflasi.

Alhasil, SBY saat itu menerapkan ke kebijakan penambahan subsidi, kenaikan harga BBM, serta kampanye penghematan energi besar-besaran. Ia mengaku tidak mudah mengambil keputusan tersebut.

ADVERTISEMENT

Keputusan itu memicu gelombang pro dan kontra yang sangat tinggi, hingga membuat suasana di parlemen gaduh dan unjuk rasa tak terhindarkan. Namun, langkah itu dinilai berhasil menyelamatkan ekonomi nasional.

"Ketika saya putuskan dan ambil langkah-langkah seperti itu, gelombang pro dan kontranya tinggi sekali. Parlemen gaduh dan unjuk rasa tak terhindarkan. Tapi, akhirnya, ekonomi kita selamat dan masyarakat tidak mampu dapat kita lindungi melalui program BLT," tambah SBY.

Terkait kondisi saat ini, SBY menyatakan dukungannya terhadap langkah-langkah yang tengah dipersiapkan oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia menekankan pentingnya gerakan penghematan energi untuk menekan defisit anggaran.

"Saya dukung gerakan penghematan energi untuk mengurangi angka defisit anggaran. Untuk menyelamatkan APBN 2026 pada khususnya dan perekonomian Indonesia pada umumnya, beberapa opsi dapat dipilih oleh pemerintah. Yang penting ekonomi kita selamat ~ termasuk terjaganya pertumbuhan (growth), terkelolanya inflasi (stabilitas harga) dan tercegahnya PHK besar-besaran (job security)," terang SBY.

"Dan yang sangat penting adalah tetap terlindunginya saudara-saudara kita kaum tak mampu yang pasti hidup mereka makin sulit," tambahnya.

Tonton juga video "Soal Pedagang Katrol Harga, Wamentan: Boleh Laporkan dan Viralkan"

(acd/acd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads