WFH Sehari dalam Sepekan: Listrik Kantor Turun, Tagihan di Rumah Naik

WFH Sehari dalam Sepekan: Listrik Kantor Turun, Tagihan di Rumah Naik

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 30 Mar 2026 12:39 WIB
WFH Sehari dalam Sepekan: Listrik Kantor Turun, Tagihan di Rumah Naik
Ilustrasi/Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Skema kerja fleksibel berupa work from home (WFH) sehari dalam sepekan disiapkan pemerintah sebagai cara menghemat energi di tengah gejolak perang Timur Tengah. Perang yang terjadi antara Iran dan Amerika Serikat (AS) itu menimbulkan potensi krisis energi bagi dunia.

Kebijakan WFH ini justru dikhawatirkan hanya memindahkan beban energi ke tingkat rumah tangga. Meskipun penggunaan energi di kantor pemerintahan dan swasta bisa berkurang karena pegawai melakukan WFH, namun penggunaan energi di setiap rumah bisa saja meningkat.

Analis Ekonomi Senior dari Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P. Sasmita menilai WFH bisa memindahkan beban energi ke tingkat rumah tangga. Justru secara agrerat nasional, konsumsi energi tidak berkurang tapi bergeser dari sektor pemerintah dan swasta ke sektor rumah tangga.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Apakah ini (kebijakan WFH) benar-benar menghemat energi atau hanya memindahkan beban? Menurut saya, jawabannya cenderung yang kedua. Secara agregat nasional, konsumsi energi tidak hilang, tapi bergeser dari sektor pemerintah ke rumah tangga. Listrik kantor turun, tapi listrik rumah naik. Internet kantor turun, tapi paket data di rumah meningkat," sebut Ronny ketika dihubungi detikcom, Senin (30/3/2026).

ADVERTISEMENT

Lebih jauh, Ronny menilai efisiensi energi di rumah tangga tidak akan bisa dilakukan sebaik di gedung perkantoran, karena tidak semua rumah didesain seefisien gedung perkantoran modern.

"Kalau dianalogikan, pemerintah seperti 'diet kalori' dengan cara memindahkan porsi makan ke orang lain. Secara neraca pemerintah memang terlihat lebih ramping, tapi beban tidak hilang, hanya berpindah ke pekerja," beber Ronny.

Menurutnya, WFH sehari setiap pekan tidak netral secara ekonomi dan distribusi beban. Bila kebijakan ini mau berkelanjutan, harus ada penyeimbang, misalnya insentif listrik rumah tangga produktif atau subsidi internet, kalau tidak, berisiko menjadi efisiensi semu yang dibayar oleh pekerja.

Konsumsi BBM Bisa Naik

Di sisi lain, Peneliti Senior Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Muhammad Ishak Razak juga mewanti-wanti skema kerja WFH justru diam-diam bisa menambah konsumsi BBM lebih banyak. Ishak mencontohkan bisa saja pekerja yang WFH malah ke luar rumah ke mal, kafe, atau paling minim antar jemput anak. Semua itu dilakukan dengan menggunakan energi.

"WFH di sisi lain bisa menambah konsumsi BBM jika pekerja malah ke luar rumah ke mal, kafe, antar jemput anak. Selain itu, akan terjadi pemindahan beban energi dari kantor ke rumah, berupa peningkatan konsumsi listrik yang sebagian digerakkan dengan pembangkit BBM dan gas juga," sebut Ishak kepada detikcom.

Secara jangka panjang, Ishak mengatakan pemerintah harus segera melakukan beberapa hal agar penggunaan energi di Indonesia bisa lebih hemat tanpa perlu menunggu krisis energi terjadi, misalnya meningkatkan investasi pada fasilitas transportasi umum untuk mendorong skema perpindahan dari kendaraan pribadi.

Bisa juga dengan mempercepat peningkatan adopsi kendaraan listrik, termasuk kendaraan umum, ojek online, dan kendaraan dinas. Terakhir, penggunaan pembangkit energi terbarukan harus diperbanyak.

(hal/ara)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads