Harga Minyak Masih Mahal, Sinyal Damai Trump Belum Ampuh Redam Pasar

Harga Minyak Masih Mahal, Sinyal Damai Trump Belum Ampuh Redam Pasar

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Rabu, 01 Apr 2026 12:15 WIB
Sebuah gambar menunjukkan pemandangan fase 12 fasilitas ladang gas South Pars di dekat kota Kangan di selatan Iran, di tepi Teluk, pada 22 Januari 2014. Harga minyak melonjak setelah serangan Israel menghantam fasilitas Iran di ladang gas utama Teluk
Foto: (AFP/BEHROUZ MEHRI)
Jakarta -

Harga minyak mentah melanjutkan tren kenaikan meski Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sudah memberi sinyal pihaknya akan keluar dari konflik melawan Iran. Menunjukkan sinyal positif tersebut tak cukup untuk menenangkan pasar energi global selama Selat Hormuz masih ditutup.

Melansir CNBC, Rabu (1/4/2026), kontrak minyak Brent untuk pengiriman Juni naik 1,5% menjadi US$ 105,56 per barel. Angka ini tercatat melonjak lebih dari 60% selama bulan Maret, menjadi reli bulanan terkuat yang pernah ada sejak tahun 1988.

Sementara harga minyak mentah AS untuk bulan Mei naik 1,5% menjadi US$ 102,92 per barel. Angka ini tercatat melonjak sekitar 51% selama perdagangan di bulan Maret, menjadi bulan terbaik untuk West Texas Intermediate sejak Mei 2020 silam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk diketahui, Trump mengatakan pada Selasa (31/3) malam waktu AS bahwa ia akan menarik pasukan AS meninggalkan Iran dalam dua atau tiga minggu ke depan.

"Kami pergi karena tidak ada alasan bagi kami untuk melakukan ini. Kami akan segera pergi," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.

ADVERTISEMENT

Trump juga menolak gagasan harus mencapai kesepakatan melalui negosiasi untuk mengakhiri perang sembari menegaskan bahwa dirinya telah berhasil untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.

"Iran tidak perlu membuat kesepakatan, itu adalah rezim baru. Mereka jauh lebih mudah diakses," ujar Trump.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pihaknya benar telah melakukan pertukaran pesan dengan AS baik secara langsung atau melalui negara-negara di kawasan tersebut. Namun pertukaran pesan ini bukanlah bentuk dari negosiasi.

"Saya menerima pesan langsung dari (utusan khusus AS) Witkoff, seperti sebelumnya, dan ini tidak berarti bahwa kami sedang bernegosiasi," kata Abbas.

"Tidak ada kebenaran dalam klaim negosiasi dengan pihak mana pun di Iran. Semua pesan disampaikan melalui Kementerian Luar Negeri atau diterima olehnya, dan ada komunikasi antara lembaga keamanan," jelasnya lagi.

Sementara itu, drone peledak Iran terus menargetkan sumber dan pasokan bahan bakar di kawasan Timur Tengah. Terakhir tangki bahan bakar di Bandara Internasional Kuwait mendapat serangan, menyebabkan kebakaran dan kerusakan besar.

Belum cukup, Garda Revolusi Iran secara terbuka mengatakan akan mulai menyerang perusahaan-perusahaan AS di kawasan itu mulai hari ini, Rabu (1/4), dengan target 18 perusahaan termasuk Google, Microsoft, Apple, Intel, IBM, Tesla, dan Boeing. Kondisi inilah yang membuat pasar energi global tetap waspada.

"Trump tetap terjebak. Mundur sekarang berarti mengakui kekalahan," kata Michael Feller, salah satu pendiri lembaga think-tank Geopolitical Strategy.

"Menghancurkan infrastruktur sipil, seperti yang diancam Trump awal pekan ini, tidak akan membuat perbedaan apa pun selain semakin menaikkan harga minyak," jelas Michael lagi.

Simak juga Video 'Bahlil Pastikan RI Punya Alternatif Impor Minyak-LPG Selain dari Timur Tengah':

(igo/fdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads