Pemerintah memutuskan untuk tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi, seperti Pertalite dan Solar dan nonsubsidi di tengah tekanan geopolitik global. Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono (BHS) mengapresiasi langkah tersebut.
Bambang mengatakan keputusan pemerintah sudah tepat agar target pertumbuhan ekonomi sebesar 8% tidak terganggu. Kebijakan ini menjadi penting untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional, terutama dalam menahan inflasi dan menjaga daya beli masyarakat.
"Langkah pemerintah ini sangat tepat untuk mencegah inflasi serta menjaga daya beli masyarakat," ujar Bambang dalam keterangan tertulis, Kamis (2/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bambang menjelaskan, stabilitas harga energi sangat krusial dalam menopang aktivitas ekonomi, terutama di sektor transportasi dan logistik yang berdampak langsung pada harga barang dan jasa.
Ia mencontohkan kebijakan serupa di negara lain, misalnya harga BBM subsidi RON 95 di Malaysia masih berada di kisaran 1,99 ringgit atau Rp 8.800 per liter dan diesel di level 2,15 ringgit atau Rp 9.000 per liter.
Selain itu, Brunei Darussalam juga mempertahankan harga BBM relatif stabil. Harga BBM premium di kisaran 0,53 dolar Brunei atau sekitar Rp 6.400 per liter, BBM jenis RON 97 dijual 0,88 dolar Brunei atau setara Rp 10.700 per liter tanpa subsidi.
Menurut Bambang, Indonesia memiliki kesamaan dengan Malaysia dan Brunei sebagai negara penghasil minyak mentah, sehingga memiliki kemampuan untuk menjaga stabilitas harga energi domestik. Meski demikian, ia menekankan bahwa kebijakan ini perlu didukung kemampuan fiskal negara.
Ia berharap pemerintah juga tetap mempertahankan harga BBM subsidi untuk sektor transportasi publik dan logistik massal seperti bus, truk, kereta api, kapal penumpang, hingga angkutan penyeberangan feri. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah efek berantai kenaikan biaya ekonomi yang dapat memicu inflasi.
"Beban subsidi solar secara keseluruhan tidak lebih dari Rp 20 triliun. Namun, penggunaan BBM subsidi saat ini tidak hanya dimanfaatkan oleh sektor transportasi publik dan logistik massal, tetapi juga oleh kendaraan pribadi," jelasnya.
Ia menekankan pentingnya penyaluran subsidi yang lebih tepat sasaran, yakni difokuskan pada transportasi publik dan logistik massal. Bambang juga mendorong pemerintah memprioritaskan BBM subsidi untuk sektor transportasi laut dan penyeberangan, mengingat perannya yang strategis sebagai penghubung antarwilayah.
Simak Video 'Bahlil Minta Masyarakat Beli BBM Wajar: Isi 50Liter/Hari Tangki Sudah Penuh':
(rea/ara)










































