Perang di Timur Tengah berdampak pada terhambatnya pengiriman minyak di Selat Hormuz. Alhasil, harga minyak dunia terus melonjak.
Kondisi ini diperparah dengan pidato Presiden AS Donald Trump bahwa akan ada agresi militer lebih lanjut terhadap Iran dalam dua hingga tiga minggu ke depan.
Komentar tersebut membuat harapan meredanya konflik jauh dari harapan yang mendorong harga minyak naik lebih dari 13%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kontrak berjangka minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei tercatat naik sekitar 10% ke level US$ 110,22 per barel. Sementara itu, minyak mentah acuan global Brent untuk kontrak Juni naik lebih dari 6% menjadi US$ 107,35 per barel.
Di sisi lain, Trump menambahkan pihaknya dengan Teheran terus melakukan diskusi, sehingga solusi diplomatik tetap terbuka.
"Kami akan menyelesaikan pekerjaan ini, dan kami akan menyelesaikannya dengan sangat cepat," ujar Trump dikutip dari CNBC, Jumat (3/4/2026).
Harga minyak sempat turun setelah laporan dari kantor berita negara Iran, IRNA, menyebutkan Iran tengah bekerja sama dengan Oman menyusun protokol pemantauan lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
"Diawasi dan dikoordinasikan oleh kedua negara," kata Kazem Gharibabadi, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Bidang Hukum dan Urusan Internasional.
Sebagai informasi, lalu lintas di Selat Hormuz praktis terhenti sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari, menyebabkan harga energi melonjak dalam salah satu krisis energi paling dahsyat di dunia.
Kedua negara pun saling membantah klaim masing-masing tentang keberadaan dan status pembicaraan kesepakatan damai sejak perang dimulai.
(hrp/hns)










































