Implementasi bahan bakar nabati B50 akan dimulai Juli 2026 mendatang. B50 adalah program bahan bakar nabati yang mencampurkan 50% biodiesel berbasis minyak kelapa sawit dengan 50% solar murni.
Bahan bakar nabati sejauh ini sudah digunakan juga untuk lokomotif kereta api. PT KAI sudah menggunakan bahan bakar biosolar B40 di seluruh lokomotifnya sejak Februari 2025.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyatakan KAI pihaknya sudah siap untuk menggunakan B50 yang nantinya dapat diterapkan pada sektor perkeretaapian.
Namun untuk menjaga keselamatan perjalanan yang menjadi prioritas utama, seluruh sarana lokomotif dan genset yang akan menggunakan B50 dipastikan melalui rangkaian uji coba teknis terlebih dahulu sebelum resmi melayani pelanggan.
"Kami sangat mendukung rencana transisi ke B50 yang tengah digarap oleh Kementerian ESDM. Pemanfaatan energi terbarukan yang semakin maju membuat kereta api semakin unggul dalam menjaga kelestarian alam, sehingga kita bisa mewariskan lingkungan yang lebih sehat untuk generasi mendatang," kata Anne dalam keterangannya, Minggu (12/4/2026).
Anne menjelaskan sebelumnya penggunaan B40 pada seluruh lokomotif KAI telah dilakukan sejak Februari 2025. Namun hal tersebut perlu melewati rangkaian uji coba bersama yang dilakukan sejak Juli 2024.
Yang jelas pihaknya yakin penggunaan energi terbarukan akan menghasilkan emisi yang lebih rendah. Hal ini juga sejalan dengan strategi pemerintah dalam memperbesar pemanfaatan bahan bakar nabati (BBN) merupakan bagian dari strategi besar menuju kemandirian energi nasional serta pencapaian target Net Zero Emission (NZE) 2060.
Lebih jauh dia menjelaskan kesadaran masyarakat untuk beralih ke transportasi publik yang ramah lingkungan terus tergambar dari peningkatan volume pelanggan. Selama Triwulan I 2026, sebanyak 14.515.350 pelanggan menggunakan layanan KA Jarak Jauh dan Lokal. Angka ini tumbuh 18,4% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025 sebanyak 12.261.632 pelanggan.
"Di tengah kondisi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang semakin terbatas, kereta api hadir sebagai solusi mobilitas yang tetap hemat dan bisa diandalkan. Dengan menggunakan B40 hasil inovasi Kementerian ESDM ini, setiap pelanggan otomatis menjadi bagian dari transformasi besar menuju transisi energi nasional yang lebih sustain dan ramah lingkungan," tutur Anne.
Selain mengantar penumpang, kereta api terus bergerak mendukung kebutuhan vital ratusan juta masyarakat melalui angkutan logistik. Selama Triwulan I 2026, KAI mengangkut 12.075.002 ton batu bara untuk memastikan ketersediaan listrik di Jawa dan Bali, serta 2.873.440 ton barang lainnya seperti peti kemas, hasil kebun, hingga kiriman retail. Seluruh distribusi logistik ini kini bergerak dengan kereta api yang lebih ramah lingkungan berkat penggunaan Biosolar B40 pada seluruh sarana lokomotif dan genset yang dioperasikan KAI.
(acd/acd)