Proyek Limbah dan Karbon Dilirik, Investasi Rp 420 M Disiapkan

Proyek Limbah dan Karbon Dilirik, Investasi Rp 420 M Disiapkan

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Kamis, 16 Apr 2026 14:21 WIB
Proyek Limbah
Foto: Dok. Istimewa
Jakarta -

Proyek pengolahan limbah berbasis biomassa dan pengembangan carbon credit mulai dilirik seiring dorongan ekonomi hijau. Nilai investasi awal yang disiapkan untuk pengembangan proyek ini mencapai US$ 25 juta atau sekitar Rp 420 miliar.

PT Eco Power Nusantara menjajaki peluang kerja sama dengan Kementerian Kehutanan (Kemenhut) usai bertemu Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni pada Selasa (14/4/2026).

Presiden Direktur PT Eco Power Nusantara Swastiko Yoga menjelaskan, pertemuan diawali dengan pemaparan profil perusahaan, termasuk jajaran direksi dan calon investor. Perusahaan juga memaparkan rencana pengembangan proyek ke depan, terutama yang berbasis ekosistem dan pemanfaatan limbah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pertemuan diawali dengan pemaparan profil PT Eco Power Nusantara, termasuk pengenalan jajaran direksi dan calon investor. Selanjutnya, perusahaan menjelaskan rencana pengembangan proyek ke depan, khususnya proyek berbasis ekosistem, pemanfaatan limbah hutan, limbah perkebunan menjadi nilai ekonomi, serta peluang pengembangan di berbagai wilayah Indonesia," kata perwakilan perusahaan dalam keterangannya, Jakarta, Kamis (16/4/2026).

Dalam pembahasan, dibahas peluang kerja sama di bidang carbon credit, reforestasi, serta pengembangan limbah biomassa sebagai bagian dari circular economy.

ADVERTISEMENT

Perusahaan juga memaparkan progres proyek dan rencana investasi dari Eco Power UK. Nilai investasi awal yang disiapkan mencapai US$ 25 juta atau sekitar Rp 420 miliar.

"Investasi yang dimaksud merupakan investasi awal untuk pengembangan proyek biochar berbasis biomassa dan carbon credit, termasuk pembangunan infrastruktur pabrik serta kantor, dengan nilai sekitar USD25 juta atau sekitar Rp420 miliar," ucapnya.

Investasi tersebut akan difokuskan pada pengolahan limbah kelapa sawit dan limbah pertanian/perkebunan menjadi produk bernilai tambah. Proyek ini juga diklaim mendukung pengurangan emisi dan pemulihan ekosistem.

Sejumlah wilayah yang menjadi target pengembangan antara lain Sanggau (Kalimantan Barat), Dumai (Riau), serta Boyolali dan Sragen (Jawa Tengah).

Terkait rencana kerja sama dengan Kemenhut, perusahaan menyebut fokusnya pada sektor kehutanan berkelanjutan dan ekonomi hijau.

"Penguatan kerja sama diarahkan pada sektor kehutanan berkelanjutan dan ekonomi hijau, khususnya dalam pengembangan restorasi ekosistem, reforestasi, social forestry, serta pengembangan proyek carbon credit yang terintegrasi dengan pemanfaatan limbah biomassa," tegasnya.

(fdl/fdl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads