500 Juta Barel Minyak Lenyap Selama Perang AS-Iran

500 Juta Barel Minyak Lenyap Selama Perang AS-Iran

Heri Purnomo - detikFinance
Minggu, 19 Apr 2026 12:30 WIB
FILE PHOTO: A map showing the Strait of Hormuz, also known as Madiq Hurmuz, and 3D printed oil barrels are seen in this illustration taken March 26, 2026. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo
Foto: REUTERS/Dado Ruvic
Jakarta -

Dunia telah kehilangan lebih dari US$ 50 miliar atau setara Rp 859 triliun (Rp 17.180) minyak mentah yang gagal diproduksi sejak perang Amerika Serikat (AS) dan Israel lawan Iran pecah pada akhir Februari 2026. Dampak lanjutan dari krisis ini diperkirakan akan dirasakan selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun ke depan.

Dilansir dari Reuters, Minggu (19/4/2026), menurut data Kpler lebih dari 500 juta barel minyak mentah dan kondensat hilang dari pasar global sejak perang AS-Iran dimulai. Itu merupakan gangguan pasokan energi terbesar dalam sejarah modern.

Sebagai gambaran, kehilangan 500 juta barel minyak dari pasar setara dengan membatasi permintaan penerbangan secara global selama 10 minggu; tidak ada perjalanan darat oleh kendaraan secara global selama 11 hari; serta tidak ada pasokan minyak bagi ekonomi global selama lima hari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jumlah itu juga setara dengan hampir satu bulan permintaan minyak di AS atau lebih dari satu bulan permintaan minyak untuk seluruh Eropa. Kira-kira sekitar enam tahun konsumsi bahan bakar untuk militer AS dan cukup untuk menjalankan industri pelayaran internasional dunia selama sekitar empat bulan.

ADVERTISEMENT

Negara-negara Teluk Arab kehilangan sekitar 8 juta barel per hari produksi minyak mentah pada Maret 2026, hampir setara dengan gabungan produksi Exxon Mobil dan Chevron sebagai dua perusahaan minyak terbesar di dunia.

Ekspor bahan bakar jet dari Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain dan Oman turun dari sekitar 19,6 juta barel pada Februari 2026, menjadi hanya 4,1 juta barel untuk Maret dan April sejauh ini. Kerugian ekspor tersebut cukup untuk sekitar 20.000 penerbangan pulang pergi antara bandara JFK New York dan London Heathrow.

Dengan harga minyak mentah rata-rata sekitar US$ 100 per barel sejak konflik dimulai, volume yang hilang tersebut mewakili kerugian pendapatan sekitar US$ 50 miliar, kata Johannes Rauball selaku analis minyak mentah senior di Kpler.

"Itu setara dengan penurunan 1% dalam produk domestik bruto tahunan Jerman, atau kira-kira seluruh PDB negara-negara kecil seperti Latvia atau Estonia," ucapnya.

(acd/acd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads