Harga minyak kembali naik setelah anjlok lebih dari 9% pada Jumat (17/4). Kenaikan itu terjadi menyusul berita Selat Hormuz kembali ditutup setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran sama-sama merasa kesepakatan gencatan senjata dilanggar.
Harga minyak mentah Brent naik US$ 6,11 atau 6,76% menjadi US$ 96,49 per barel pada pukul 23.27 GMT. Kemudian minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berada di level US$ 90,38 per barel, naik US$ 6,53 atau 7,79%.
"Pasar minyak terus bergejolak sebagai respons terhadap unggahan media sosial yang berfluktuasi oleh AS dan Iran," kata Kepala Penelitian MST Marquee, Saul Kavonic dikutip dari Reuters, Senin (20/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagaimana diketahui, Iran kembali menutup Selat Hormuz pada Sabtu (18/4) setelah beberapa jam dibuka. Tindakan itu diambil karena AS dianggap telah melanggar janji dengan melanjutkan blokade angkatan lautnya terhadap kapal-kapal yang berlayar dari dan ke pelabuhan Iran.
Militer AS telah menyita kapal kargo Iran yang mencoba menerobos blokade. Sementara Iran mengatakan tidak akan berpartisipasi dalam putaran kedua pembicaraan damai meskipun Presiden AS Donald Trump mengancam akan melakukan serangan udara lagi.
Kavonic menilai pengumuman pembukaan Selat Hormuz terlalu dini. Ke depan, para pemilik kapal diperkirakan dua kali lebih berhati-hati untuk kembali menuju jalur tersebut.
"Para pemilik kapal akan dua kali lebih berhati-hati untuk kembali menuju Selat tanpa menerima keyakinan lebih besar bahwa setiap pengumuman jalur pelayaran itu benar-benar ada," imbuhnya.
Tercatat lebih dari 20 kapal melewati Selat Hormuz pada Sabtu (18/4) membawa minyak, gas cair, logam, dan pupuk. Data Kpler menunjukkan jumlah kapal tersebut menjadi yang tertinggi sejak 1 Maret 2026.
(aid/ara)










































