Indonesia Sudah Setop Impor Solar, Produksi B50 100% Lokal

Indonesia Sudah Setop Impor Solar, Produksi B50 100% Lokal

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Senin, 27 Apr 2026 14:19 WIB
Uji Coba B50
Foto: Ignacio Geordy Oswaldo
Yogyakarta -

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan Indonesia saat ini sudah berhenti impor bahan bakar solar. Penghentian impor solar ini terjadi seiring pengoperasian kilang terintegrasi atau Refinery Development Master Plan (RDMP) Pertamina di Balikpapan, Kalimantan Timur pada Januari 2026 kemarin.

Direktur Jenderal (Dirjen) Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengatakan informasi terkait Indonesia yang sudah setop impor solar ini didapat dari Pertamina Patra Niaga selaku subholding PT Pertamina (Persero) di sektor hilir.

"Memang sudah tidak impor lagi kan kita. Sudah semua produksi Pertamina, dan iya berlebih, dari adanya waktu itu RDMP Balikpapan yang diresmikan presiden itu sudah berjalan nih. Teman-teman Patra sudah memastikan," kata Eniya di kawasan Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta, Senin (27/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bersamaan dengan itu, pemerintah terus berupaya meningkatkan kualitas bahan bakar nabati yang dihasilkan dari minyak sawit (FAME). Langkah ini dimaksudkan sebagai bagian dari implementasi biodiesel B50 pada Juli 2026 mendatang.

"FAME itu spesifikasinya naik. Jadi untuk menurunkan sulfur iya, menurunkan emisi sudah pasti," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Dengan begitu bahan bakar biodiesel 100% produksi dalam negeri. Membuat Indonesia dapat mengurangi ketergantungannya terhadap impor bahan bakar fosil, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

"Spesifikasi dari FAME yang dicampur dengan solar yang disediakan oleh Pertamina Patra Niaga, dan Pak Menteri sudah mencanangkan penggunaan solar seluruhnya dari dalam negeri dan FAME itu juga dari dalam negeri," jelasnya.

"Jadi, so far karena FAME-nya bagus, solar-nya juga iya. Solar-nya sudah produksi sendiri, dan itu dua-duanya 100% lokal," ujar Eniya lagi.

Menurutnya penggunaan bahan bakar yang sepenuhnya bisa diproduksi dalam negeri ini menjadi penting di tengah ketidakpastian pasokan dan kenaikan harga minyak dunia imbas perang di Timur Tengah.

"Kita tahu bahwa harga solar, minyak dunia kan lagi tinggi, itu sekarang bahan bakar nabati yang kita produksi ini, harganya jauh lebih rendah daripada solar. Jadi, saat ini adalah hal yang tepat respon pemerintah untuk menaikkan komposisi dari campuran FAME tersebut," tegasnya.

(igo/fdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads