Trump Nggak Puas Proposal Iran soal Hormuz, Harga Minyak Melonjak

Trump Nggak Puas Proposal Iran soal Hormuz, Harga Minyak Melonjak

Andi Hidayat - detikFinance
Selasa, 28 Apr 2026 21:32 WIB
FILE PHOTO: A map showing the Strait of Hormuz, also known as Madiq Hurmuz, and 3D printed oil barrels are seen in this illustration taken March 26, 2026. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo
Ilustrasi.Foto: REUTERS/Dado Ruvic
Jakarta -

Harga minyak kembali melonjak signifikan hari ini, Selasa (28/4). Lonjakan tersebut terjadi menyusul ketidakpuasan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap proposal pembukaan Selat Hormuz yang diajukan Iran.

Dikutip dari CNBC, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berjangka melonjak lebih dari 3% menjadi US$ 100,11 per barel pada pukul 08.35 ET. Kemudian harga minyak mentah Brent berjangka naik 3,2% menjadi US$ 111,67.

Trump sebelumnya diketahui mengaku tidak puas dengan proposal Iran untuk membuka selat dan mengakhiri perang. Pernyataan itu ia ungkap kepada para penasihatnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun berdasarkan sumber beredar, tidak disebut rinci ketidakpuasan Trumo terhadap proposal tersebut. Iran sendiri telah menawarkan proposal untuk membuka Selat Hormuz jika AS mencabut blokade angkatan lautnya. Selain itu, Teheran ingin menunda pembahasan program nuklirnya ke waktu yang akan datang.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, pun meragukan proposal Iran. Menurutnya, Teheran bersedia membuka kembali selat tersebut untuk lalu lintas selama mereka masih mengendalikan jalur laut tersebut.

ADVERTISEMENT

"Itu bukan membuka selat. Itu adalah jalur perairan internasional. Mereka tidak dapat menormalisasi, dan kita juga tidak dapat mentolerir upaya mereka untuk menormalisasi, sistem di mana Iran memutuskan siapa yang berhak menggunakan jalur perairan internasional dan berapa banyak yang harus Anda bayarkan kepada mereka untuk menggunakannya," kata Rubio dikutip dari CNBC, Selasa (28/4/2026).

Ppenutupan Selat Hormuz mengganggu pengiriman 20 juta barel per hari minyak mentah, bahan bakar, dan produk petrokimia. Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow, mengatakan pemulihan kondisi pasar normal akan memakan waktu berbulan-bulan imbas perang AS-Iran.

Pasalnya, perairan Selat Hormuz harus diseterilkan dari ranjau, mengurangi kemacetan kapal tanker, dan secara bertahap memulai kembali produksi dan penyulingan.

Dengan memperhitungkan keterlambatan pengiriman dan distribusi, Lipow memperkirakan setidaknya butuh empat hingga enam bulan untuk kembali menormalkan pasar minyak meski harga disebut akan tetap tinggi selama periode tersebut.

"Semakin lama konflik berlangsung, semakin tinggi harganya, terutama karena persediaan berkurang hingga ke tingkat operasional kritis. Jika konflik berakhir besok, harga minyak mentah diperkirakan akan turun $10 per barel," ungkal Lipow.

Tanpa adanya negosiasi baru, harga minyak mentah WTI disebut akan kembali naik ke US$ 100. Sementara minyak mentah Brent akan melampaui US$ 110. Investor juga mengawasi OPEC setelah Uni Emirat Arab berencana akan meninggalkan organisasi tersebut.

(ahi/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads