Harga minyak sempat melampaui US$ 126 per barel pada perdagangan Kamis (30/4) kemarin, imbas eskalasi perang Amerika Serikat (AS) melawan Iran yang membuat Selat Hormuz masih ditutup. Ini merupakan harga minyak tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Dikutip dari CNN, Jumat (1/5/2026), harga minyak mentah Brent yang kerap menjadi patokan global tercatat sempat melonjak hingga US$ 126,41 per barel, sebelum turun menjadi US$ 115,8 per barel seiring dengan menipisnya volume perdagangan.
Harga minyak mentah Brent sudah naik jauh dibandingkan dengan harga sebelum perang, yakni di kisaran US$ 73 per barel. Harga saat ini juga terhitung hampir dua kali lipat dibandingkan harganya pada awal tahun, sebelum ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mulai meningkat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang kerap menjadi patokan di AS, tercatat turun 0,7% menjadi US$ 106 per barel selama perdagangan kemarin.
Harga BBM, Plastik, Tekstil Naik
Harga rata-rata bensin di AS mencapai level tertinggi dalam empat tahun terakhir, yaitu US$ 4,30 atau sekitar Rp 74.420 (kurs Rp 17.307) per galon (3,78 liter), atau Rp 19.687 per liter.
Selain BBM, harga minyak yang tinggi turut menyebabkan kenaikan harga produk-produk turunan minyak bumi seperti plastik, karet sintetis, atau tekstil, serta kenaikan harga pangan.
Bahkan kondisi ini sudah mengakibatkan kelangkaan pasar. Sebab tingginya harga minyak dan kurangnya pasokan membuat pasokan barang-barang seperti sarung tangan medis, mi instan, dan kosmetik menipis.
Kondisi ini utamanya terjadi di Asia, dan diperkirakan akan menjalar ke wilayah lain karena benua ini mengimpor sebagian besar energinya namun memproduksi sebagian besar barang di dunia.
Para ekonom memperingatkan jika gangguan pasokan minyak ini berlanjut hingga paruh kedua 2026, kondisi itu dapat memicu resesi global. Sebab beberapa negara sudah sangat menderita kekurangan bahan bakar, inflasi yang meningkat seiring kenaikan harga BBM dan produk turun minyak lainnya, dan penurunan pengeluaran konsumen.
"Harga minyak tidak punya pilihan selain naik sampai pembukaan kembali selat secara permanen terwujud. Saat ini, bagaimana dan kapan itu akan terjadi masih menjadi tebak-tebakan siapa pun," kata Vandana Hari, pendiri perusahaan analisis pasar energi Vanda Insights.
(igo/ara)










































