OPEC+ Sepakat Tambah Produksi Minyak 188.000 Barel/Hari Mulai Juni

OPEC+ Sepakat Tambah Produksi Minyak 188.000 Barel/Hari Mulai Juni

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Senin, 04 Mei 2026 08:45 WIB
A drone view of a pump jack and drilling rig south of Midland, Texas, U.S. June 11, 2025. REUTERS/Eli Hartman
Ilustrasi/Foto: REUTERS/Eli Hartman
Jakarta -

Organisasi negara-negara pengekspor minyak dan sekutunya (OPEC+) sepakat menambah produksi minyak mulai Juni sebesar 188.000 barel per hari (bph). Hal ini dilakukan di tengah ketidakpastian pasokan imbas perang di Timur Tengah dan keluarnya salah satu anggota kunci mereka, Uni Emirat Arab (UEA).

Pengumuman peningkatan produksi pada Juni yang disampaikan oleh kelompok tujuh produsen minyak utama dunia (Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman) sebenarnya sedikit lebih rendah dari rencana kenaikan produksi pada Mei ini yang mencapai 206.000 barel per hari. Angka produksi tersebut sudah tidak memasukkan bagian produksi UEA yang secara resmi keluar dari OPEC pada 1 Mei.

"Dalam komitmen kolektif mereka untuk mendukung stabilitas pasar minyak, tujuh negara peserta memutuskan untuk menerapkan penyesuaian produksi sebesar 188 ribu barel per hari dari penyesuaian sukarela tambahan yang diumumkan pada April 2023," kata OPEC dalam pernyataannya, dikutip dari CNBC, Senin (4/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk diketahui, pasokan minyak global kini masuk dalam masa krisis sejak perang Iran yang dimulai pada 28 Februari lalu. Sebab tak lama sejak perang dimulai, kawasan Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur pelayaran vital untuk pasokan minyak dan gas global ditutup.

ADVERTISEMENT

Belum cukup, di tengah krisis ini UEA selaku produsen terbesar ketiga dari OPEC memutuskan untuk keluar dari kelompok tersebut. Negara Teluk itu menyimpulkan keputusan keluar dari kelompok itu sesuai dengan kepentingan nasional setelah dilakukan tinjauan komprehensif terhadap kebijakan dan kapasitas produksinya.

Beruntung di tengah berbagai tekanan ini, harga minyak global sempat turun pada Jumat (1/5) kemarin setelah Iran mengirimkan proposal perdamaian terbaru kepada para mediator di Pakistan, yang kembali membangkitkan harapan bahwa penyelesaian dengan AS masih mungkin terjadi.

Dalam hal ini, harga minyak mentah berjangka AS turun 3% dan ditutup pada US$ 101,94 per barel, sementara patokan minyak mentah internasional, Brent, turun hampir 2% dan ditutup pada US$ 108,17 per barel. Namun, penurunan ini masih jauh dari harga normal sebelum perang dimulai karena kedua patokan harga minyak dunia ini sudah naik hampir 78% lebih tinggi jika dibandingkan dengan awal 2026.

(igo/ara)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads