Pasokan Bahan Bakar Seret Gegara Perang, Penerbangan di Asia & Eropa Terganggu

Pasokan Bahan Bakar Seret Gegara Perang, Penerbangan di Asia & Eropa Terganggu

Ilyas Fadilah - detikFinance
Kamis, 07 Mei 2026 08:30 WIB
Pesawat sedang take off atau lepas landas.
Foto: Unsplash/Gary Lopater
Jakarta -

Masalah pasokan bahan bakar pesawat mulai mengancam perjalanan musim panas setelah terganggunya pasokan dari Timur Tengah yang berdampak ke Asia dan Eropa.

Menurut International Energy Agency (IEA), sebelum perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran pecah pada 28 Februari, ekspor dari Teluk Persia merupakan sumber terbesar pasokan bahan bakar jet ke pasar global.

Namun, blokade Iran terhadap Selat Hormuz membuat ekspor bahan bakar pesawat dari kawasan tersebut terhenti. Eropa menjadi salah satu wilayah paling terdampak karena sebelumnya sekitar 20% kebutuhan bahan bakar pesawat di kawasan itu dipasok dari Teluk.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sumber utama lainnya berasal dari kilang di China, Korea Selatan, dan India. Namun, kilang-kilang tersebut juga sangat bergantung pada minyak mentah dari Timur Tengah. Sebelum perang, sekitar 90% minyak dari Teluk yang melewati Selat Hormuz dikirim ke Asia.

ADVERTISEMENT

Kilang di Asia kini kesulitan memenuhi permintaan domestik maupun global akibat berkurangnya pasokan minyak mentah. Ekspor global bahan bakar jet turun 30% menjadi 1,3 juta barel per hari pada April, dari 1,9 juta barel per hari pada periode yang sama tahun lalu.

"Ini seperti kecelakaan mobil dalam gerakan lambat," kata Direktur Riset Komoditas Kpler, Matt Smith, dilansir dari CNBC, Kamis (7/5/2026).

Volume bahan bakar jet yang dimuat ke kapal tanker pekan lalu juga anjlok 50% menjadi 18,6 juta barel, dari 37,8 juta barel pada periode yang sama tahun lalu. Di Eropa, Airports Council International Europe memperingatkan Uni Eropa dapat menghadapi kekurangan sistemik bahan bakar jet jika Selat Hormuz tidak kembali dibuka.

Lonjakan harga bahan bakar pesawat juga mulai memukul maskapai. Lufthansa memangkas 20.000 penerbangan jarak pendek hingga Oktober, sebagian karena tingginya biaya bahan bakar.

Harga bahan bakar jet di Eropa telah melonjak dua kali lipat dalam setahun terakhir menjadi US$ 187 per barel per 1 Mei, menurut International Air Transport Association (IATA).

CEO Chevron, Mike Wirth, mengatakan kekurangan pasokan kemungkinan akan menjadi masalah yang semakin serius dalam beberapa pekan ke depan. "Sinyal harga di beberapa wilayah sudah sangat ekstrem dan yang benar-benar mereka khawatirkan sekarang adalah pasokan," ujarnya.

Pasar sebelumnya masih mendapat 'masa tenggang' karena kapal tanker yang berangkat dari Teluk Persia sebelum perang masih sempat mengirim minyak dan produk olahan selama Maret dan April.

Untuk mengatasi kekurangan, Uni Eropa kini berupaya mencari pasokan alternatif, terutama dari Amerika Serikat.

Kilang AS seperti Valero dan Marathon Petroleum meningkatkan produksi bahan bakar jet untuk memenuhi permintaan global. Ekspor AS ke Eropa melonjak lebih dari 400% menjadi 94.000 barel per hari pada April dibandingkan Februari saat perang dimulai.

Simak juga Video Menhub soal Kenaikan Tiket Pesawat: Range 9-13 %, Tak Boleh Lebih

(acd/acd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads